Keterampilan Critical Reading Mahasiswa FEB UKSW Angkatan 2017

“Anytime you read, you are reading the product of an author’s reasoning. You can use your understanding of the elements of reasoning, therefore, to bring your reading to a higher level.[1]” 

Kesalahan umum dalam membaca adalah tanpa metode standar, dan karenanya kerapkali sambil membaca teks si pembaca (reader) sibuk sendiri dengan pikiran dan dinamika didalamnya. Akibatnya gagal memahami secara utuh konten atau logic of content dari penulis (tulisan yang dibacanya). Padahal, tujuan utama membaca adalah memahami pikiran penulis, yang oleh  Richard Paul dibahasakan sebagai “masuk ke dalam pikiran penulis.”  Konsep kuncinya adalah critical reading, yaitu membaca secara kritis dengan menggunakan ‘tools standar’ dalam penalaran kritis sehingga membantu memahami bacaan atau produk penalaran secara efektif.

Model Critical Thinking Paulian dari Richard Paul dan Linda Elder memiliki keunggulan dalam hal menggunakan standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran.  Salah satu diantara standar dimaksud adalah elements of reasoning (EoR)

EoR merupakan ‘rancang bangun’ dari output penalaran, baik berupa tulisan maupun lisan (orasi). Karenanya, EoR dapat digunakan sebagai ‘indikator asesmen’ untuk menguji kesahihan sebuah produk penalaran. Empat dimensi penalaran yang menjadi obyek penerapan EoR adalah critical listening (hearing),critical reading, critical writing, dan  ciritical speaking.  

Bagi mahasiswa tahun pertama, kemampuan membaca atau critical reading (disamping mendengar) merupakan syarat dasar yang harus dimiliki atau keterampilan dasar yang perlu dikuasi sebelum menulis dan berbicara. Keterampilan memahami dan menerapkan EoR akan sangat membantu  mahasiswa untuk membaca teks dan memahami secara efektif dan efisien.

Penelitian kelas ini bertujuan mengetahui kemampuan critical reading Mahasiswa FEB-UKSW yang mengambil mata kuliah Critical Thinking tahun ajaran 2017/2018.  Disamping itu, penelitian ini hendak mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam critical reading berkaitan dengan identifikasi elemen penalaran. Pertanyaan lain yang ingin dijawab adalah apakah bahan bacaan berbahasa asing ikut memengaruhi kemampuan critical reading mahasiswa?

Konsep dan Teori

Dua konsep yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

  1. Critical Thinking dan Paulian Model.

Critical thinking memiliki banyak definisi.  Yang digunakan  dalam penelitian ini adalah yang diajukan oleh Richard Paul dan Linda Elder.

Critical Thinking sebagaimana yang dikembangkan oleh Richard Paul dan Linda Elder atau dikenal dengan Model Paulian, menyediakan tools sebagai standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran dan tampilan critical thinkers, apakah memenuhi kriteria sebagai ‘strong critical thinker’ (SCT) atau ‘weak crtical thinker” (WCT). Tujuan pembelajaran CT adalah berkembang dari WCT ke SCT.  Tiga komponen yang ditetapkan sebagai standar baku dari CT Paulian adalah Eelements of Thought atau Elements of Reasoning (EOS), Intelektual Standar atau desebut juga Universal Intelektual Standard (UIS), dan Intellectaul Traits (IT).

Lengkapnya, Model CT Paulian dapat dilihat dalam Diagram berikut:

Sumber: http://www.criticalthinking.org/pages/applied-disciplines-a-critical-thinking-model

Ketiga komponen strandar di atas berfungsi secara terpadu dan terintegrasi, dan tidak bisa dilepaspisahkan satu dari yang lainnya. Kerangka dasar atau rancang bangunnya adalah EOR (the Eelements), sementara kedalamannya atau ukuran kekuatan kerangka bangunan penalarannya adalah UIS (the Standards), yang diorienteasikan untuk menghasilkan intelektual yang bijak (IT).  Artinya, IT merupakan output dari penerapan EOR yang menggunakan Standards. Seorang strong critical thinkers memiliki nilai-nilai atau kebajikan sebagaimana dirumuskan sebagai IT.   

Sebagai permulaan penelitian ini memfokuskan pada ‘kerangka bangunan CT,’ yaitu EOR.  Harapannya, apabila kerangkanya sudah terbangun akan mudah melanjutkan ke Standar-nya untuk menciptakan ‘bangunan penalaran kritis yang kuat’ pada mahasiswa.

Elements of Reasoning meliputi 8 unsur, yaitu Purpose, Questions, Point of View, Information, Inferences, Concepts, Implication, dan Assumption. Mempertimbangkan kerumitannya bagi maka penelitian ini memodifikasi kedelapan element tersebut yaitu dengan mengabaikan elemen Asumsi dan Point of View serta menggantinya dengan Tema atau Judul Bacaan, dan Tanggapan sebagai pembaca setelah membaca naskah atau teks.

2. Critical Reading

Critical Reading adalah salah satu keterampilan dari empat produk penalaran. Ketiga produk lainnya adalah Critical Listening, Critical Writing dan Critical Speaking. Keempatnya menggambarkan kemampuan atau keterampilan di domain masing-masing dengan ketiga komponen standar baku CT Paulian. Dengan kata lain, Critical Reading adalah keterampilan membaca teks dengan menggunakan standar berpikir kritis, yaitu EOR dan UIS.  Untuk penelitian ini, sebagaiamana telah dijelaskan di atas, akan focus pada EOR.  Karenanya, penelitian ini mendefiniskan Critical Reading sebagai: “kemampuan membaca atau mengases teks dengan menggunakan elemen-elemen penalaran dari CT Paulian.”


PROSES & PENGORGANISASIAN PENELITIAN

Penelitian melibatkan 176 mahasiswa FEB Angkatan 2017. Hanya dengan 1 kali pertemuan untuk menjelaskan tentang EoR, mahasiwa diberikan bahan bacaan untuk latihan mengases. Setidaknya 7 elemen  pokok dianjurkan untuk diidentifikasi, dengan maksud  mengetahui seberapa tepat mahasiswa melakukan asesmen atau membaca dan memahami bahan bacaan secara kritis berdasarkan elemen-elemen penalaran yang dipelajari.

Mahasiswa dalam setiap kelas dibagi menjadi 10 kelompok. Terdapat 3 kelas dengan jumlah mahasiswa bervariasi antara 50-60 orang. Setiap kelompok terdiri dari antara 4-8 orang, masing-masing diberikan sebuah tema bacaan yang diambil dari 3 sumber, yaitu:

  1. Karya Simon Petrus Lili Tjahjadi berjudul PETUALANGAN INTELEKTUAL: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern.
  2. Karya Richard Paul & Linda Elder berjudul Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Professional and Personal Life
  3. Richard Paul’s Ontology

Adapun pembagian bahan-bahan (materi) Critical Reading untuk setiap kelompok sebagai berikut:

HASIL PENELITIAN & DISKUSI

Kelompok diminta mendiskusikan tema yang diberikan, namun untuk menyelesaikan instruksi dikerjakan secara individu. Pembentukan kelompok dimaksudkan supaya terjadi diskusi dan saling sharing pemahaman, mengingat bahan ‘berbau’ filsafat kerap dianggap sulit, lagipula kebanyakan bahan sumber tersedia dalam bahasa asing (Inggris).  

Menyadari bahwa ‘pembekalan materi’ elemen-elemen penalaran tidak memadai, karena hanya diberikan dalam 1 kali pertemuan, itu pun bukan praktek melainkan ceramah dan diskusi, maka tidak semua elemen dalam CT Model Paulian diberikan. Adapun Richard Paul menganjurkan delapan elemen penalaran, yaitu Purpose (Tujuan), Key Question, Inference (Kesimpulan dan Solusi), Information, Key Concepts, Assumptions, Implications & Consequences, dan Point of View. Elemen-elelemen yang dianggap sulit diidentifikasi, seperti Assumption, dan Point of View tidak dimasukkan dalam instruksi. Selanjutnya, dimasukkan dua komponen lain yang dianggap lebih mudah, yaitu:

  1. Tema. Pada bagian ini mahasiswa diminta memberi judul pada bahan yang dibacanya itu. Harapannya, mereka memberi judul setelah membaca dan memahami konten.  Mahasiswa yang memahami bahan bacaan dengan baik tentu akan memberi tema atau judul yang sesuai, sebaliknya yang tidak memahami memberi judul yang tidak sesuai.
  • Tanggapan. Komponen ini memang bukan bagian dari elemen penalaran, namun peneliti berpendapat bahwa, apabila mahasiswa sudah mampu ‘membedah sebuah bacaan’ berdasarkan elemen-elemen penalaran, semestinya dapat memberi tanggapan atas ‘karya’ tersebut, baik secara keseluruhan (umum) maupun bagian tertentu, misalnya terkait asumsinya, purposenya, konsep kunci-nya, dan sejenisnya. Tanggapan mahasiswa akan menggambarkan tingkat pemahaman, dan dalam  tingkat tertentu daya imajinasinya untuk ‘memanfaatkan’ karya tersebut bagi pengembangan pembelajaran atau pengalaman belajarnya.

Tabel Hasil Tes Identifikasi Elemen-Elemen Penalaran

Mahaiswa FEB – MK Critical Thinking  Tahun 2018

Hasil kerja mahasiswa seperti nampak di Tabel di atas mengindikasikan beberapa hal penting.

Pertama;  Sebagian besar mahasiswa masih sangat lemah pada mengidentifikasi elemen INFORMASI (hanya 0,22% yang menjawab dengan benar). Dalam CT Paulian termasuk dalam kategori elemen ini adalah pendapat ahli, data/fakta, grafik, diagram, atau pengalaman, yang digunakan untuk mendukung elemen Purpose dan menjawab Question.  Di sini nampaknya para mahasiswa masih terjebak dalam pengertian informasi secara sempit, yaitu ‘isi berita’ dari bacaan. Bahkan terdapat empat kelompok, yaitu K5, K7, K9 dan K10 dimana tidak ada seorang pun yang bisa  mengidentifikasi elemen ini. Skor tertinggi adalah kelompok 1 (K1) (N=17), yaitu 0,76 (13 dari 17 responden) yang menjawab dengan tepat.  Ini bisa jadi terkait dengan tema yang dibahas kelompok 1, yaitu “Berpikir Kritis bersama para Filsuf Pra-Socratic” dimana yang dibahas adalah gagasan tokoh-tokoh filsafat alam hingga kaum Sofis dan Socrates.  Jadi, mudah menyebut nama tokoh-tokoh dengan karya mereka, yang merupakan Informasi utama. Tetapi, sebaliknya pada identifikasi KONSEP KUNCI, kelompok ini tidak ada satu pun yang bisa melakukannya. Padahal sangat banyak konsep kunci di bacaan tersebut, antar alain Mitos, Prinsip Dasar (Arche), Realitas, Eros, Elemen alam, Pluralisme, Dualisme, Spermata, Pantha rei, dsb.

Kedua; skor tertinggi adalah identifikasi (merumuskan) TEMA (0,6). Tetapi, sesungguhnya bukanlah kabar gembira.  Sebagian besar dari mahasiswa hanya menulis ulang judul materi.  Disebabkan instruksinya yang tidak tegas (hanya meminta menuliskan tema, padahal yang dimaksud merumuskannya berdasarkan pemahaman setelah membaca konten), akhirnya dibenarkan (karena juga terkait Nilai TAS Mahasiswa). Meski demikian, 32% dari mereka dapat merumuskan tema dengan formulasi kalimat lain sebagaimana diharapkan.

Skor tertinggi kedua adalah identifikasi elemen KONSEP KUNCI (55%), meski terdapat 2 kelompok (1 dan 5) yang gagal mengidentifikasinya. Nampaknya, hal ini terkait dengan ‘sifat’ atau ‘tingkat kesulitan’ bahan bacaan. Di sejumlah bahan bacaan konsep kunci eksplesit dan tunggal sehingga mudah diidentifikasi. Misalnya, pada bahan bacaan “Socratic Questioning” yang menjadi konsep kunci hanya Socratic questioning dan Socratic discussion. Atau pada bahan bacaan “Parts of Thinking” dengan sendirinya yang dibahas sebagai konsep kunci adalah  delapan elemen penalaran sehingga mudah dikenali.

Ketiga;  pada komponen memberikan TANGGAPAN, awalnya diperkirakan akan sulit. Ternyata 42 dari 176  (24%) mahasiswa bisa memberi tanggapan yang tepat (atau setidaknya mendekati/berkualitas) sesuai harapan.

Keempat; apakah bahan bacaan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki perbedaan? Tabel  dibawah menunjukkan nilai rata-rata dari kelompok materi berbahasa Indonesia (4 Kelompok) dan kelompok materi berbahasa Inggris (6 Kelompok) untuk diperbandingkan. 

Tabel Perbandingan Skor Rata-rata

Berdasarkan Kelompok Materi Berbahasa Indonesia dan Inggris

Berdasarkan Tabel  di atas, nampak identifikasi elemen-elemen penalaran tidak memperlihatkan adanya dominasi berdasarkan kelompok bahasa. Kelompok materi berbahasa Inggris mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi pada tiga elemen, yaitu identifikasi Tema, dan Tujuan (purpose), dan Konsep-konsep kunci (key consepts). Sementara untuk empat elemen lainnya kelompok materi berbahasa Indonesia mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi.  Artinya, tidak terdapat perbedaan yang berarti. Diduga, perbedaan lebih disebabkan oleh ‘kerumitan bahan bacaan’ dari segi penyajiannya.  Misalnya, pada materi-materi berbahasa Inggris semua elemen informasi disajikan dalam bentuk contoh, pengalaman, metafora, diagram, dan tabel-tabel latihan. Kemungkinan disebabkan masih terpenjara dalam pemahaman tentang informasi dalam pengertian sempit, yaitu sebagai ‘pesan bernilai dalam sebuah bacaan,’ mahasiswa belum peka mengidentifikasi informasi dalam cakupan pengertian critical thinking Paulian. Kemungkinan lainnya, sebagai pemula yang hanya dibekali dalam satu kali pertemuan, mahasiswa lebih fokus mencari teori-teori, pendapat ahli (lain), data dan sejenisnya, yang memang tidak tersaji dalam bahan-bahan bacaan Sumber 2 maupun Sumber 3 yang dirujuk. Artinya, pada bahan-bahan bacaan berbahasa Inggris  elemen informasi tersaji secara ‘tersamar,’ yang berarti tingkat kesulitannya tinggi. Sebaliknya, di Sumber 1 elemen informasi tersaji secara eksplesit lantaran membahas  tokoh-tokoh filsafat dengan gagasan-gagasan filosofisnya, juga teori maupun metafora yang digunakannya.

IDENTIFIKASI KESALAHAN UMUM

Berikut kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan mahasiswa ketika mengidentifikasi elemen-elemen penalaran dalam critical reading.

  1. Menjawab dengan menggunakan logika sendiri, terlepas dari konten. Ini  kemungkinan terjadi karena mahasiswa tidak membaca bahan yang menjadi acuan (bahan diskusi), atau membaca tetapi tidak memahami teks, atau membaca dan memahami tetapi tidak cukup teliti.
  • Jawaban tidak spesifik. Misalnya, bahan diskusi K7,  kesimpulan yang dibuat sendiri yaitu, “berpikir kritis sangat penting bagi mahasiswa.”

Disamping kesalahan-kesalahan umum diatas, teridentifikasi pula sejumlah kesalahan yang terjadi dalam mengidentifikasi masing-masing elemen sebagai berikut:

Elemen-1: Purpose

Kesalahan dalam mengidentifikasi elemen Purpose adalah:

  1. Merumuskan tujuanya belajar CT, misalnya sebagai kewajiban perkuliahan. Ini kesalahan yang dilakukan oleh setidaknya 4 ( dari 17) yang salah mengidentifkasi purpose.
  • Purpose juga diidentifikasi sebagai tujuan pembaca, yaitu misalnya untuk memahami atau untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
  • Ketika bahan diskusi yang membahas tokoh, misalnya Filsafat Kritis Immanuel Kant, purpose yang dirumuskan bukannya purpose tulisan (penulis), melainkan purpose Kant (dengan mereka-reka/tanpa rujukan).
  • Jawaban ngawur. Misalnya, bahan tentang The Parts of Thinking (K7), purposenya: agar membuka pikiran seseorang dalam menerima informasi verbal dan non verbal.

Elemen-2: Information

  1. Apa yang dianggapnya sebagai ‘pesan bernilai’ dari bahan yang dibaca, dan bukan konten yang dijadikan acuan penulis untuk mendukung atau menjawab purpose. Ini kesalahan karena memahami informasi dalam pengertian sempit.
  • Menjelaskan informasi yang digunakan oleh pembaca dalam menjawab pertanyaan / instruksi, yaitu dari buku sumber, internet, kuliah dosen, dan sejenisnya.

Elemen-3: Konsep Kunci

  1. Berdasarkan hasil kerja responden nampaknya masih sulit membedakan elemen Konsep  Kunci dengan elemen Kesimpulan. Misalnya bahan bacaan K5: “Menjadi Kritikus dari Pemikiran Sendiri,” seorang responden menyebutkan salahsatu  kata kunci yaitu  “dalam setiap hal yang kita lakukan perlu pemikiran kritis.”
  • Jawaban ngawur: Misalnya, bahan K6, Konsep Kunci yang dirumuskan: “Wawasan yang luas dan pengetahuan yang baik juga penting bagi penalaran atau proses berfikir.”

Elemen-4:  Kesimpulan

  1. Membuat kesimpulan sendiri, padahal yang seharusnya yang diidentifikasi adalah kesimpulan penulis (bahan acuan). Misalnya, bahan bacaan acuan ditulis oleh Richard Paul, maka elemen Kesimpulan yang harus diidentifikasi adalah kesimpulan dalam tulisan Richard Paul itu, dengan kata lain kesimpulan penulis (Richard Paul), bukan kesimpulan reader (pembaca).
  • Responden yang membuat kesimpulan sendiri pun tidak tepat, yaitu sama dengan membuat ringkasan atas bahan bacaan. Ini menunjukkan bahwa responden belum bisa membedakan antara Kesimpulan dan Ringkasan.

Kesimpulan yang dibuat bisa BENAR (sesuai dengan kesimpulan yang dibuat penulis), namun tidak selalu dibuat dengan mengacu bahan bacaan. Ada responden yang merumuskannya sendiri, meskipun formulasinya sangat berbeda namun esensinya cocok dengan kesimpulan penulis bahan bacaan (bahan acuan). Ini dapat berarti pembaca memahami konten sehingga dapat membuat kesimpulan dengan benar karena dituntun oleh alur logis.  Namun, idealnya harus dipahami bahwa kesimpulan dalam critical reading adalah kesimpulan penulis, bukan pembaca (meski pun benar).

  • Terdapat pula mahasiswa yang membuat kesimpulan yang terlalu umum. Misalnya, bahan bacaan tentang Plato, kesimpulan yang dibuat adalah “berpikir kritis itu bermanfaat bagi mahasiswa.”
  • Keisimpulan dalam CT Paulian seharusnya berkonsekuensi pada elemen implikasi. Artinya, implikasi merupakan runtun logis atau runtun efek dari elemen kesimpulan.  Kebanyakan responden merumuskan implikasi berdiri sendiri. Ada pula yang  salah mengidentifikasi kesimpulan, namum implikasi BENAR karena dibuat berdasarkan kesimpulan (yang salah itu).   Di sini, ukuran benar bukan dari sisi logic of content, melainkan karena prosedurnya benar, yaitu dipahami sebagai konsekuensi dari kesimpulan.

Elemen-5: Implikasi

  1. Impilikasi dibuat sama dengan kesimpulan. Artinya, elemen Implikasi belum bisa dibedakan dengan elemen Kesimpulan. Setidaknya 4 mahasiswa meng-copy paste apa yang sudah dibuat di Kesimpulan dan memindahkannya ke Implikasi.
  • Implikiasi dibuat berdiri sendiri, tidak terkait dengan kesimpulan penulis.
  • Ada pula yang salah membuat kesimpulan, namun nampak implikasi (kalau dikaitkan dengan kesimpulan penulis) yang dibuat benar. 

Elemen-6: Tanggapan

  1. Membuat tanggapan seperti membuat kesimpulan. Padahal, yang diharapkan adalah menanggapi secara keseluruhan atau sebagian bahan bacaan berdasarkan pemahaman setelah membaca.
  • Membuat tanggapan tepat, namun lebih teknis. Misalnya,  “penulis menggunakan konsep-konsep yang sulit dipahami, juga kurang memberikan contoh-contoh sehingga tidak memudahkan pemahaman.”

KESIMPULAN & IMPLIKASI

  1. Eksperimen ini menghasilkan kesimpulan bahwa kemampuan crtical reading mahasiswa masih rendah.  Hanya 11,9% (21 dari 176 responden) yang bisa mengerjakan semua instruksi sesuai standar. Artinya, kelompok ini menunjukkan kemampuan mengidentifikasi  elemen-elemen penalaran dengan tepat, dan ini menunjukkan bahwa ada dampak sebagai hasil pembelajaran (introduksi elemen-elemen penalaran). Disebut ‘hanya’ introduksi dikarenakan intensitasnya hanya 1 kali pertemuan, dan dilakukan dengan metode ceramah. Diduga, apabila digunakan metode simulasi atau latihan akan memberikan hasil yang lebih baik.
  • Bahasa tidak menjadi masalah dalam pembelajaran critical reading. Artinya, mahasiswa dapat mengerjakan instruksi dari bahan bacaan berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia. Sejumlah kesalahan sebagaimana teridentifikasi tidak disebabkan oleh bahasa, sehingga diduga dapat teratasi dengan latihan dan pembiasaan.
  • Sebagai implikasinya, perlu pengembangan keterampilan critical reading mahasiswa. Meskipun belum ada penelitian terkait dengan keterampilan di domain critical thinking lainya, hasil ini diduga dapat memberi gambaran kasar terkait keterampilan critical writing, critical listening, maupun critical speaking mahasiswa. Untuk meningkatkan keterampilan critical reading, dan domain critical thinking lainnya dianjurkan setidaknya dua cara. Pertama; untuk bahan materi-materi ‘standar’ seperti Elemen-elemen penalaran dan Standar Intelektual digunakan metode latihan dan bukan ceramah & diskusi. Latihan memungkinkan mahasiswa langsung praktek, kemudian hasil kerjanya dievaluasi, lalu diperbaiki, seterusnya hingga keterampilannya benar-benar terasah menjadi kebiasaan. Kedua; intensitas diperlukan. Makin intensif kuantitas pembelajaran akan menciptakan efek pembiasaan. Apabila diberlakukan untuk semua mata pelajaran (mata kuliah), yaitu critical reading, dan secara umum critical thinking sebagai instrumen sekaligus “metode belajar/mengajar,’ diduga akan semakin efektif menciptakan ‘habitus pembelajaran’ di dunia pendidikan, khususnya di UKSW.

[1] Richard Paul & Linda Elder, 2006, The International Critical Thinking, Reading and Writing Test: How to Access Close Reading and Substantive Writing (second edition), Foundation for Critical Thinking