Romo Tomas menghantar civitas UKSW memahami manusia

Berfilsafat tentang Manusia

Dr. Thomas Hidya Tjaya dari STF Driyarkara memukau kelas Kursus Filsafat UKSW 2019/2020 di sesi kelima dalam tema Filsafat Manusia. Dengan metodenya yang menekankan pada sistem berpikir, Romo Thomas memulai dengan alasan mengapa perlu belajar Filsafat Manusia. Selain sebagai natur manusia untuk mengetahui realitas (being), termasuk mengetahui dirinya sendiri, juga membantu manusia memahami struktur dasar serta kodratnya guna membuka ruang ke kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas (termasuk ketidakmungkinannya) perihal mengetahui sesuatu.

Pada hakikatnya Filsafat Manusia merefleksikan manusia sebagai manusia seada-adanya. Maka, yang pertama dilakukan adalah membedakan konsep manusia sebagai makluk dan sebagai pengada. Keduanya dibedakan oleh pengandaian ontologis, dimana terma ‘makluk’ (creature) sudah mengandaikan adanya penciptaan (konsep teologis). Filsafat Manusia akhirnya memilih terma “pengada” agar lebih netral. Mengapa? Karena makna manusia harus dipahami dari ‘esensi manusia’ itu sendiri sebagai pengada (being) seperti halnya batu, kayu, planet, tikus, serigala, tanaman dan sebagainya.

Namun, juga ternyata bahwa manusia tidak sekadar pengada melainkan pengada hidup (living being) bersama pengada hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Meski demikian ada fitur pembeda antara manusia dan sesama pengada hidup lainnya, yang membuat manusia sadar untuk mempertanyakan adanya dan ada ada lain.

Persoalannya adalah manusia sudah banyak dibebani pemaknaan dari luar dirinya, sehingga proyek FM pertama-tama adalah membersihkan dari konteks apapun, termasuk keilmuan, dan dari atribut-atribut aksidental yang dilekatkan padanya. Dengan cara ini, setelah ditanggalkan satu persatu atribut eksternal tertinggal hanyalah struktur khas manusia, yang kemudian bisa menjadi dasar dan titik pijak untuk memahami dirinya maupun pengada-pengada lain.

Secara ontologis manusia sebagai pengada hidup (living beings) memiliki beberapa ciri. Pertama, Asimilasi, yaitu manusia berkembang dan mengembangkan diri dengan mengubah apa yang dimakan dan dicerna menjadi substansinya sendiri. Kedua; Rekuperasi yaitu memperbaiki dan memulihkan luka-lukanya dari dalam diri atau substansinya sendiri. Ketiga, Reproduksi diri yakni melipatgandakan diri dan memuat dalam dirinya bibit atau tunas yang akan menjadi suatu pengada hidup baru sebagai penerus spesiesnya. Keempat, Adaptasi dimana ia mampu memberikan tanggapan terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya dan atas keadaan yang ‘mengkondisikan’ eksistensinya. Tanggapan ini berasal dari dalam dirinya sendiri, dan bukan karena mekanisasi atau otomatisasi. Kelima; Penentu finalitas yaitu menjadi tujuan bagi dirinya sendiri (khususnya pada manusia). Hal ini terlihat dalam kegiatan transitif, yakni kegiatan yang memproduksi suatu efek di luar dari pelakunya (melukis, mengukir batu, menulis, dsb.)

Dengan struktur ontologis seperti di atas terbentuk kodratnya sebagai pengada hidup (living beings), yaitu: Memiliki kemampuan untuk menyempurnakan dirinya sendiri (autoperfektif), yaitu tumbuh, mengembangkan diri, mengerti sesuatu, dan mengambil keputusan, dan sebagainya. Dan Kemampuan menyempurnakan diri sendiri ini menunjukkan bahwa pengada hidup memiliki kesatuan substansial (substantial unity) yang membuatnya selalu bersifat identik dengan dirinya, dari kelahiran hingga kematiannya.

Kesatuan substantial memiliki sifat-sifat: PERTAMA, Dinamis dan menstrukturkan, dimana sumber pertama dari kegiatan-kegiatan yang beranekaragam terkoordinasi serupa sebuah energi primordial. Kesatuan substansial inilah yang memungkinkan pengada hidup yang sekompleks manusia dapat bernafas, bergerak, mendengarkan, belajar, dsb. KEDUA, Natural (bukan artifisial), dimana sudah dimiliki pengada hidup sejak awal dan menstrukturkannya sejak awal (bukan hasil penggabungan). Sifat kesatuan substansi ini selalu ada pada setiap tahap perkembangan dan aspek kegiatan pengada hidup. KETIGA, Memiliki kesadaran (sampai batas tertentu), yang menyebabkan pengada hidup hadir pada dirinya sendiri. Kehadiran ini diperlukan agar usaha penyempurnaan dan realisasi dirinya dapat terwujud. Pada manusia, sifat kodrati ini membuatnya dapat berefleksi, berkontemplasi dan mempertanyakan dirinya sendiri. KEEMPAT, Subjektif yaitu menyangkut sebuah ‘aku’ (the I). Kesatuan substansial ini, dialami sebagai subjek atau aku, tidak dapat direduksikan sebagai objek atau alat apapun. KELIMA, Kompleks, dimana pengada terdiri atas berbagai bagian yang tergantung satu sama lain, namun memiliki konfigurasi yang khas sehingga dapat memenuhi suatu fungsi tertentu.

Kuliah yang sangat interaktif berlangsung empat jam tanpa terasa, namun tetap saja tidak menuntaskan pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa manusia selalu butuh waktu yang tidak sedikit untuk memhamai dirinya sendiri, karena memahami diri sendiri merupakan titik tolak memahami dunia. Sejauh pembelajaran di atas, Romo Thomas baru mengantar sampai struktur ontologis manusia pada “fitur-fitur umum” yang dimiliki semua pengada hidup. Yang membedakannya hanyalah level, tetapi secara kodrati semua pengada hidup memilikinya. Ini sebuah ending yang mendebarkan dan membuat penasaran.

Keterampilan Critical Reading Mahasiswa FEB UKSW Angkatan 2017

“Anytime you read, you are reading the product of an author’s reasoning. You can use your understanding of the elements of reasoning, therefore, to bring your reading to a higher level.[1]” 

Kesalahan umum dalam membaca adalah tanpa metode standar, dan karenanya kerapkali sambil membaca teks si pembaca (reader) sibuk sendiri dengan pikiran dan dinamika didalamnya. Akibatnya gagal memahami secara utuh konten atau logic of content dari penulis (tulisan yang dibacanya). Padahal, tujuan utama membaca adalah memahami pikiran penulis, yang oleh  Richard Paul dibahasakan sebagai “masuk ke dalam pikiran penulis.”  Konsep kuncinya adalah critical reading, yaitu membaca secara kritis dengan menggunakan ‘tools standar’ dalam penalaran kritis sehingga membantu memahami bacaan atau produk penalaran secara efektif.

Model Critical Thinking Paulian dari Richard Paul dan Linda Elder memiliki keunggulan dalam hal menggunakan standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran.  Salah satu diantara standar dimaksud adalah elements of reasoning (EoR)

EoR merupakan ‘rancang bangun’ dari output penalaran, baik berupa tulisan maupun lisan (orasi). Karenanya, EoR dapat digunakan sebagai ‘indikator asesmen’ untuk menguji kesahihan sebuah produk penalaran. Empat dimensi penalaran yang menjadi obyek penerapan EoR adalah critical listening (hearing),critical reading, critical writing, dan  ciritical speaking.  

Bagi mahasiswa tahun pertama, kemampuan membaca atau critical reading (disamping mendengar) merupakan syarat dasar yang harus dimiliki atau keterampilan dasar yang perlu dikuasi sebelum menulis dan berbicara. Keterampilan memahami dan menerapkan EoR akan sangat membantu  mahasiswa untuk membaca teks dan memahami secara efektif dan efisien.

Penelitian kelas ini bertujuan mengetahui kemampuan critical reading Mahasiswa FEB-UKSW yang mengambil mata kuliah Critical Thinking tahun ajaran 2017/2018.  Disamping itu, penelitian ini hendak mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam critical reading berkaitan dengan identifikasi elemen penalaran. Pertanyaan lain yang ingin dijawab adalah apakah bahan bacaan berbahasa asing ikut memengaruhi kemampuan critical reading mahasiswa?

Konsep dan Teori

Dua konsep yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

  1. Critical Thinking dan Paulian Model.

Critical thinking memiliki banyak definisi.  Yang digunakan  dalam penelitian ini adalah yang diajukan oleh Richard Paul dan Linda Elder.

Critical Thinking sebagaimana yang dikembangkan oleh Richard Paul dan Linda Elder atau dikenal dengan Model Paulian, menyediakan tools sebagai standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran dan tampilan critical thinkers, apakah memenuhi kriteria sebagai ‘strong critical thinker’ (SCT) atau ‘weak crtical thinker” (WCT). Tujuan pembelajaran CT adalah berkembang dari WCT ke SCT.  Tiga komponen yang ditetapkan sebagai standar baku dari CT Paulian adalah Eelements of Thought atau Elements of Reasoning (EOS), Intelektual Standar atau desebut juga Universal Intelektual Standard (UIS), dan Intellectaul Traits (IT).

Lengkapnya, Model CT Paulian dapat dilihat dalam Diagram berikut:

Sumber: http://www.criticalthinking.org/pages/applied-disciplines-a-critical-thinking-model

Ketiga komponen strandar di atas berfungsi secara terpadu dan terintegrasi, dan tidak bisa dilepaspisahkan satu dari yang lainnya. Kerangka dasar atau rancang bangunnya adalah EOR (the Eelements), sementara kedalamannya atau ukuran kekuatan kerangka bangunan penalarannya adalah UIS (the Standards), yang diorienteasikan untuk menghasilkan intelektual yang bijak (IT).  Artinya, IT merupakan output dari penerapan EOR yang menggunakan Standards. Seorang strong critical thinkers memiliki nilai-nilai atau kebajikan sebagaimana dirumuskan sebagai IT.   

Sebagai permulaan penelitian ini memfokuskan pada ‘kerangka bangunan CT,’ yaitu EOR.  Harapannya, apabila kerangkanya sudah terbangun akan mudah melanjutkan ke Standar-nya untuk menciptakan ‘bangunan penalaran kritis yang kuat’ pada mahasiswa.

Elements of Reasoning meliputi 8 unsur, yaitu Purpose, Questions, Point of View, Information, Inferences, Concepts, Implication, dan Assumption. Mempertimbangkan kerumitannya bagi maka penelitian ini memodifikasi kedelapan element tersebut yaitu dengan mengabaikan elemen Asumsi dan Point of View serta menggantinya dengan Tema atau Judul Bacaan, dan Tanggapan sebagai pembaca setelah membaca naskah atau teks.

2. Critical Reading

Critical Reading adalah salah satu keterampilan dari empat produk penalaran. Ketiga produk lainnya adalah Critical Listening, Critical Writing dan Critical Speaking. Keempatnya menggambarkan kemampuan atau keterampilan di domain masing-masing dengan ketiga komponen standar baku CT Paulian. Dengan kata lain, Critical Reading adalah keterampilan membaca teks dengan menggunakan standar berpikir kritis, yaitu EOR dan UIS.  Untuk penelitian ini, sebagaiamana telah dijelaskan di atas, akan focus pada EOR.  Karenanya, penelitian ini mendefiniskan Critical Reading sebagai: “kemampuan membaca atau mengases teks dengan menggunakan elemen-elemen penalaran dari CT Paulian.”


PROSES & PENGORGANISASIAN PENELITIAN

Penelitian melibatkan 176 mahasiswa FEB Angkatan 2017. Hanya dengan 1 kali pertemuan untuk menjelaskan tentang EoR, mahasiwa diberikan bahan bacaan untuk latihan mengases. Setidaknya 7 elemen  pokok dianjurkan untuk diidentifikasi, dengan maksud  mengetahui seberapa tepat mahasiswa melakukan asesmen atau membaca dan memahami bahan bacaan secara kritis berdasarkan elemen-elemen penalaran yang dipelajari.

Mahasiswa dalam setiap kelas dibagi menjadi 10 kelompok. Terdapat 3 kelas dengan jumlah mahasiswa bervariasi antara 50-60 orang. Setiap kelompok terdiri dari antara 4-8 orang, masing-masing diberikan sebuah tema bacaan yang diambil dari 3 sumber, yaitu:

  1. Karya Simon Petrus Lili Tjahjadi berjudul PETUALANGAN INTELEKTUAL: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern.
  2. Karya Richard Paul & Linda Elder berjudul Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Professional and Personal Life
  3. Richard Paul’s Ontology

Adapun pembagian bahan-bahan (materi) Critical Reading untuk setiap kelompok sebagai berikut:

HASIL PENELITIAN & DISKUSI

Kelompok diminta mendiskusikan tema yang diberikan, namun untuk menyelesaikan instruksi dikerjakan secara individu. Pembentukan kelompok dimaksudkan supaya terjadi diskusi dan saling sharing pemahaman, mengingat bahan ‘berbau’ filsafat kerap dianggap sulit, lagipula kebanyakan bahan sumber tersedia dalam bahasa asing (Inggris).  

Menyadari bahwa ‘pembekalan materi’ elemen-elemen penalaran tidak memadai, karena hanya diberikan dalam 1 kali pertemuan, itu pun bukan praktek melainkan ceramah dan diskusi, maka tidak semua elemen dalam CT Model Paulian diberikan. Adapun Richard Paul menganjurkan delapan elemen penalaran, yaitu Purpose (Tujuan), Key Question, Inference (Kesimpulan dan Solusi), Information, Key Concepts, Assumptions, Implications & Consequences, dan Point of View. Elemen-elelemen yang dianggap sulit diidentifikasi, seperti Assumption, dan Point of View tidak dimasukkan dalam instruksi. Selanjutnya, dimasukkan dua komponen lain yang dianggap lebih mudah, yaitu:

  1. Tema. Pada bagian ini mahasiswa diminta memberi judul pada bahan yang dibacanya itu. Harapannya, mereka memberi judul setelah membaca dan memahami konten.  Mahasiswa yang memahami bahan bacaan dengan baik tentu akan memberi tema atau judul yang sesuai, sebaliknya yang tidak memahami memberi judul yang tidak sesuai.
  • Tanggapan. Komponen ini memang bukan bagian dari elemen penalaran, namun peneliti berpendapat bahwa, apabila mahasiswa sudah mampu ‘membedah sebuah bacaan’ berdasarkan elemen-elemen penalaran, semestinya dapat memberi tanggapan atas ‘karya’ tersebut, baik secara keseluruhan (umum) maupun bagian tertentu, misalnya terkait asumsinya, purposenya, konsep kunci-nya, dan sejenisnya. Tanggapan mahasiswa akan menggambarkan tingkat pemahaman, dan dalam  tingkat tertentu daya imajinasinya untuk ‘memanfaatkan’ karya tersebut bagi pengembangan pembelajaran atau pengalaman belajarnya.

Tabel Hasil Tes Identifikasi Elemen-Elemen Penalaran

Mahaiswa FEB – MK Critical Thinking  Tahun 2018

Hasil kerja mahasiswa seperti nampak di Tabel di atas mengindikasikan beberapa hal penting.

Pertama;  Sebagian besar mahasiswa masih sangat lemah pada mengidentifikasi elemen INFORMASI (hanya 0,22% yang menjawab dengan benar). Dalam CT Paulian termasuk dalam kategori elemen ini adalah pendapat ahli, data/fakta, grafik, diagram, atau pengalaman, yang digunakan untuk mendukung elemen Purpose dan menjawab Question.  Di sini nampaknya para mahasiswa masih terjebak dalam pengertian informasi secara sempit, yaitu ‘isi berita’ dari bacaan. Bahkan terdapat empat kelompok, yaitu K5, K7, K9 dan K10 dimana tidak ada seorang pun yang bisa  mengidentifikasi elemen ini. Skor tertinggi adalah kelompok 1 (K1) (N=17), yaitu 0,76 (13 dari 17 responden) yang menjawab dengan tepat.  Ini bisa jadi terkait dengan tema yang dibahas kelompok 1, yaitu “Berpikir Kritis bersama para Filsuf Pra-Socratic” dimana yang dibahas adalah gagasan tokoh-tokoh filsafat alam hingga kaum Sofis dan Socrates.  Jadi, mudah menyebut nama tokoh-tokoh dengan karya mereka, yang merupakan Informasi utama. Tetapi, sebaliknya pada identifikasi KONSEP KUNCI, kelompok ini tidak ada satu pun yang bisa melakukannya. Padahal sangat banyak konsep kunci di bacaan tersebut, antar alain Mitos, Prinsip Dasar (Arche), Realitas, Eros, Elemen alam, Pluralisme, Dualisme, Spermata, Pantha rei, dsb.

Kedua; skor tertinggi adalah identifikasi (merumuskan) TEMA (0,6). Tetapi, sesungguhnya bukanlah kabar gembira.  Sebagian besar dari mahasiswa hanya menulis ulang judul materi.  Disebabkan instruksinya yang tidak tegas (hanya meminta menuliskan tema, padahal yang dimaksud merumuskannya berdasarkan pemahaman setelah membaca konten), akhirnya dibenarkan (karena juga terkait Nilai TAS Mahasiswa). Meski demikian, 32% dari mereka dapat merumuskan tema dengan formulasi kalimat lain sebagaimana diharapkan.

Skor tertinggi kedua adalah identifikasi elemen KONSEP KUNCI (55%), meski terdapat 2 kelompok (1 dan 5) yang gagal mengidentifikasinya. Nampaknya, hal ini terkait dengan ‘sifat’ atau ‘tingkat kesulitan’ bahan bacaan. Di sejumlah bahan bacaan konsep kunci eksplesit dan tunggal sehingga mudah diidentifikasi. Misalnya, pada bahan bacaan “Socratic Questioning” yang menjadi konsep kunci hanya Socratic questioning dan Socratic discussion. Atau pada bahan bacaan “Parts of Thinking” dengan sendirinya yang dibahas sebagai konsep kunci adalah  delapan elemen penalaran sehingga mudah dikenali.

Ketiga;  pada komponen memberikan TANGGAPAN, awalnya diperkirakan akan sulit. Ternyata 42 dari 176  (24%) mahasiswa bisa memberi tanggapan yang tepat (atau setidaknya mendekati/berkualitas) sesuai harapan.

Keempat; apakah bahan bacaan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki perbedaan? Tabel  dibawah menunjukkan nilai rata-rata dari kelompok materi berbahasa Indonesia (4 Kelompok) dan kelompok materi berbahasa Inggris (6 Kelompok) untuk diperbandingkan. 

Tabel Perbandingan Skor Rata-rata

Berdasarkan Kelompok Materi Berbahasa Indonesia dan Inggris

Berdasarkan Tabel  di atas, nampak identifikasi elemen-elemen penalaran tidak memperlihatkan adanya dominasi berdasarkan kelompok bahasa. Kelompok materi berbahasa Inggris mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi pada tiga elemen, yaitu identifikasi Tema, dan Tujuan (purpose), dan Konsep-konsep kunci (key consepts). Sementara untuk empat elemen lainnya kelompok materi berbahasa Indonesia mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi.  Artinya, tidak terdapat perbedaan yang berarti. Diduga, perbedaan lebih disebabkan oleh ‘kerumitan bahan bacaan’ dari segi penyajiannya.  Misalnya, pada materi-materi berbahasa Inggris semua elemen informasi disajikan dalam bentuk contoh, pengalaman, metafora, diagram, dan tabel-tabel latihan. Kemungkinan disebabkan masih terpenjara dalam pemahaman tentang informasi dalam pengertian sempit, yaitu sebagai ‘pesan bernilai dalam sebuah bacaan,’ mahasiswa belum peka mengidentifikasi informasi dalam cakupan pengertian critical thinking Paulian. Kemungkinan lainnya, sebagai pemula yang hanya dibekali dalam satu kali pertemuan, mahasiswa lebih fokus mencari teori-teori, pendapat ahli (lain), data dan sejenisnya, yang memang tidak tersaji dalam bahan-bahan bacaan Sumber 2 maupun Sumber 3 yang dirujuk. Artinya, pada bahan-bahan bacaan berbahasa Inggris  elemen informasi tersaji secara ‘tersamar,’ yang berarti tingkat kesulitannya tinggi. Sebaliknya, di Sumber 1 elemen informasi tersaji secara eksplesit lantaran membahas  tokoh-tokoh filsafat dengan gagasan-gagasan filosofisnya, juga teori maupun metafora yang digunakannya.

IDENTIFIKASI KESALAHAN UMUM

Berikut kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan mahasiswa ketika mengidentifikasi elemen-elemen penalaran dalam critical reading.

  1. Menjawab dengan menggunakan logika sendiri, terlepas dari konten. Ini  kemungkinan terjadi karena mahasiswa tidak membaca bahan yang menjadi acuan (bahan diskusi), atau membaca tetapi tidak memahami teks, atau membaca dan memahami tetapi tidak cukup teliti.
  • Jawaban tidak spesifik. Misalnya, bahan diskusi K7,  kesimpulan yang dibuat sendiri yaitu, “berpikir kritis sangat penting bagi mahasiswa.”

Disamping kesalahan-kesalahan umum diatas, teridentifikasi pula sejumlah kesalahan yang terjadi dalam mengidentifikasi masing-masing elemen sebagai berikut:

Elemen-1: Purpose

Kesalahan dalam mengidentifikasi elemen Purpose adalah:

  1. Merumuskan tujuanya belajar CT, misalnya sebagai kewajiban perkuliahan. Ini kesalahan yang dilakukan oleh setidaknya 4 ( dari 17) yang salah mengidentifkasi purpose.
  • Purpose juga diidentifikasi sebagai tujuan pembaca, yaitu misalnya untuk memahami atau untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
  • Ketika bahan diskusi yang membahas tokoh, misalnya Filsafat Kritis Immanuel Kant, purpose yang dirumuskan bukannya purpose tulisan (penulis), melainkan purpose Kant (dengan mereka-reka/tanpa rujukan).
  • Jawaban ngawur. Misalnya, bahan tentang The Parts of Thinking (K7), purposenya: agar membuka pikiran seseorang dalam menerima informasi verbal dan non verbal.

Elemen-2: Information

  1. Apa yang dianggapnya sebagai ‘pesan bernilai’ dari bahan yang dibaca, dan bukan konten yang dijadikan acuan penulis untuk mendukung atau menjawab purpose. Ini kesalahan karena memahami informasi dalam pengertian sempit.
  • Menjelaskan informasi yang digunakan oleh pembaca dalam menjawab pertanyaan / instruksi, yaitu dari buku sumber, internet, kuliah dosen, dan sejenisnya.

Elemen-3: Konsep Kunci

  1. Berdasarkan hasil kerja responden nampaknya masih sulit membedakan elemen Konsep  Kunci dengan elemen Kesimpulan. Misalnya bahan bacaan K5: “Menjadi Kritikus dari Pemikiran Sendiri,” seorang responden menyebutkan salahsatu  kata kunci yaitu  “dalam setiap hal yang kita lakukan perlu pemikiran kritis.”
  • Jawaban ngawur: Misalnya, bahan K6, Konsep Kunci yang dirumuskan: “Wawasan yang luas dan pengetahuan yang baik juga penting bagi penalaran atau proses berfikir.”

Elemen-4:  Kesimpulan

  1. Membuat kesimpulan sendiri, padahal yang seharusnya yang diidentifikasi adalah kesimpulan penulis (bahan acuan). Misalnya, bahan bacaan acuan ditulis oleh Richard Paul, maka elemen Kesimpulan yang harus diidentifikasi adalah kesimpulan dalam tulisan Richard Paul itu, dengan kata lain kesimpulan penulis (Richard Paul), bukan kesimpulan reader (pembaca).
  • Responden yang membuat kesimpulan sendiri pun tidak tepat, yaitu sama dengan membuat ringkasan atas bahan bacaan. Ini menunjukkan bahwa responden belum bisa membedakan antara Kesimpulan dan Ringkasan.

Kesimpulan yang dibuat bisa BENAR (sesuai dengan kesimpulan yang dibuat penulis), namun tidak selalu dibuat dengan mengacu bahan bacaan. Ada responden yang merumuskannya sendiri, meskipun formulasinya sangat berbeda namun esensinya cocok dengan kesimpulan penulis bahan bacaan (bahan acuan). Ini dapat berarti pembaca memahami konten sehingga dapat membuat kesimpulan dengan benar karena dituntun oleh alur logis.  Namun, idealnya harus dipahami bahwa kesimpulan dalam critical reading adalah kesimpulan penulis, bukan pembaca (meski pun benar).

  • Terdapat pula mahasiswa yang membuat kesimpulan yang terlalu umum. Misalnya, bahan bacaan tentang Plato, kesimpulan yang dibuat adalah “berpikir kritis itu bermanfaat bagi mahasiswa.”
  • Keisimpulan dalam CT Paulian seharusnya berkonsekuensi pada elemen implikasi. Artinya, implikasi merupakan runtun logis atau runtun efek dari elemen kesimpulan.  Kebanyakan responden merumuskan implikasi berdiri sendiri. Ada pula yang  salah mengidentifikasi kesimpulan, namum implikasi BENAR karena dibuat berdasarkan kesimpulan (yang salah itu).   Di sini, ukuran benar bukan dari sisi logic of content, melainkan karena prosedurnya benar, yaitu dipahami sebagai konsekuensi dari kesimpulan.

Elemen-5: Implikasi

  1. Impilikasi dibuat sama dengan kesimpulan. Artinya, elemen Implikasi belum bisa dibedakan dengan elemen Kesimpulan. Setidaknya 4 mahasiswa meng-copy paste apa yang sudah dibuat di Kesimpulan dan memindahkannya ke Implikasi.
  • Implikiasi dibuat berdiri sendiri, tidak terkait dengan kesimpulan penulis.
  • Ada pula yang salah membuat kesimpulan, namun nampak implikasi (kalau dikaitkan dengan kesimpulan penulis) yang dibuat benar. 

Elemen-6: Tanggapan

  1. Membuat tanggapan seperti membuat kesimpulan. Padahal, yang diharapkan adalah menanggapi secara keseluruhan atau sebagian bahan bacaan berdasarkan pemahaman setelah membaca.
  • Membuat tanggapan tepat, namun lebih teknis. Misalnya,  “penulis menggunakan konsep-konsep yang sulit dipahami, juga kurang memberikan contoh-contoh sehingga tidak memudahkan pemahaman.”

KESIMPULAN & IMPLIKASI

  1. Eksperimen ini menghasilkan kesimpulan bahwa kemampuan crtical reading mahasiswa masih rendah.  Hanya 11,9% (21 dari 176 responden) yang bisa mengerjakan semua instruksi sesuai standar. Artinya, kelompok ini menunjukkan kemampuan mengidentifikasi  elemen-elemen penalaran dengan tepat, dan ini menunjukkan bahwa ada dampak sebagai hasil pembelajaran (introduksi elemen-elemen penalaran). Disebut ‘hanya’ introduksi dikarenakan intensitasnya hanya 1 kali pertemuan, dan dilakukan dengan metode ceramah. Diduga, apabila digunakan metode simulasi atau latihan akan memberikan hasil yang lebih baik.
  • Bahasa tidak menjadi masalah dalam pembelajaran critical reading. Artinya, mahasiswa dapat mengerjakan instruksi dari bahan bacaan berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia. Sejumlah kesalahan sebagaimana teridentifikasi tidak disebabkan oleh bahasa, sehingga diduga dapat teratasi dengan latihan dan pembiasaan.
  • Sebagai implikasinya, perlu pengembangan keterampilan critical reading mahasiswa. Meskipun belum ada penelitian terkait dengan keterampilan di domain critical thinking lainya, hasil ini diduga dapat memberi gambaran kasar terkait keterampilan critical writing, critical listening, maupun critical speaking mahasiswa. Untuk meningkatkan keterampilan critical reading, dan domain critical thinking lainnya dianjurkan setidaknya dua cara. Pertama; untuk bahan materi-materi ‘standar’ seperti Elemen-elemen penalaran dan Standar Intelektual digunakan metode latihan dan bukan ceramah & diskusi. Latihan memungkinkan mahasiswa langsung praktek, kemudian hasil kerjanya dievaluasi, lalu diperbaiki, seterusnya hingga keterampilannya benar-benar terasah menjadi kebiasaan. Kedua; intensitas diperlukan. Makin intensif kuantitas pembelajaran akan menciptakan efek pembiasaan. Apabila diberlakukan untuk semua mata pelajaran (mata kuliah), yaitu critical reading, dan secara umum critical thinking sebagai instrumen sekaligus “metode belajar/mengajar,’ diduga akan semakin efektif menciptakan ‘habitus pembelajaran’ di dunia pendidikan, khususnya di UKSW.

[1] Richard Paul & Linda Elder, 2006, The International Critical Thinking, Reading and Writing Test: How to Access Close Reading and Substantive Writing (second edition), Foundation for Critical Thinking

PENGENALAN KERANGKA BERPIKIR KRITIS PAULIAN

The mind is own place, and in it self can make a heav’n of hell, a hell of heav’n. John Milton (1608-1674)

Judul tersebut disesuaikan dengan kedudukan mahasiswa 201 sebagai mahasiswa baru, dan dihubungkan dengan gagasan untuk menyatukan pemikiran (Critical Thinking) kedalam kurikulum semua Fakultas/Jurusan di UKSW pada tahun 2019. Beranjak dari rencana diatas itulah Pemikiran Kritis dalam acara Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) 2018 ini disajikan sebagai perkenalan dengan pemikiran kritis. Walaupun demikian pada tingkat terbatas akan juga diperkenalkan praktek berpikir kritis dengan pendekatan “minimalist”. Pendekatan minimalist menunjuk kepada penerapan satu elemen atau lebih dari 25 elemen Kerangka Pemikiran Kritis Paulian, terhadap teks bacaan tertentu. Hal itu kami lakukan ketika menganalisis dialog antara dosen dengan seorang mahasiswa dan tiga cerita lainnya. Ketiga cerita dimaksud terdiri dari satu “The True Story” dan dua cerita fiktif.

Kerangka pemikiran kritis Paulian (Paulian’s framework of critical thinking) menunjuk kepada keberadaan 25 elemen  pemikiran kritis (baca diagram 4) yang dihasilkan Richard Paul (alm.2015) pendiri (founding father) dan Linda Elder, President, Centre of Critical Thinking, Foundation for Critical Thinking, Sonoma University, Northern Calfornia, USA. Oleh karena itu, judul “Pengenalan Kerangka Berpikir Kritis Paulian,” hendaknya dipahami sebagai pengenalan kerangka pemikiran kritis Paulian dan analisis penerapannya secara terbatas. Didalamnya tersirat tujuan pengenalan dimaksud yaitu agar para mahasiswa angkatan 2018, secara inteletual telah dipersiapkan secara mandiri (intellectual autonomy) sehingga UKSW boleh beranggapan (assumption) bahwa mahasiswa telah siap mengikuti kuliah berpikir kritis pada waktunya.

Kutipan dari puisi John Milton dalam bukunya “Paradise Lost” (surga yang hilang) sebagaimana tersaji dalam sub judul diatas adalah suatu metafora the mind in its own place artinya, pikiran kita menempati kedudukan tersendiri dalam keberadaan kita sebagai manusia. Kita dapat mendayagunakannya, bagaikan merubah surga menjadi Negara (heaven of hell) atau dapat merubah “neraka menjadi surga” (hell of heaven). Para terrorist, radikalis-ekstremis, para penjahat, koruptor, Machiaveliani, kemiskinan dan kesengsaraan manusia oleh penyulut perang seperti ISIS di Suriah-Libanon dan Irak termasuk kelompok pertama, heaven of hell. Masih tidak jelas kategori-kategori untuk kelompok kedua, hell of heaven. Mereka yang terkorban karena perilaku kelompok pertama (yang ingin menjadikan dunia ini sebagai surganya sendiri dan membiarkan neraka bagi orang lain) yaitu, para pengungsi yang menderita akibat perang dan bencana alam misalnya, berada dalam suasana neraka walaupun mungkin dalam penderitaan mereka toh masih terhibur dengan harapan, surga akan datang kelak. Bagaimana dengan kita di UKSW ini? Heaven-hevanly? Dapatkah UKSW menjadi surga didunia menuju surge sesungguhnya, menurut iman kepercayaan kita.

Kerangka Pemikiran Kritis Paulian (KPKP) menyarankan agar menerapkan 8 elemen penalaran (elements of reasoning/EoR) yang harus memenuhi 9 standard intelektual universal (Universal Intellectual Standards/UIS) dan ketika melakukan penalaran belajar dan berusaha menerapkan, 8 kebajikan inteletual (Intellectual Virtues). Mungkin Heaven akan terasa Heavenly setelah itu).

Jika demikian bagaimana dengan hidup anda sekarang? Bagaimana perasaan anda ketika berada di UKSW paling tidak setelah menjalani OMB ini? Semoga tidak ada heaven of the hell, semoga juga tidak hell of heaven, tetapi semoga ada citra harapan, a heaven-heavenly, apapun rumusan pengertiannya yang kita lekatkan kepada metaphor ketika ini. Menurut kami, quote dari John Milton diatas sebenarnya memusat kepada pengenalan diri sendiri (to know Thyself). Apakah anda memilih menjadi mahasiswa UKSW agar dapat melihat terang kecerahan ke masa depan ketika anda bekerja? Itulah harapan kita semua, khususnya anda yang telah hadir di UKSW ini!

Semua mahasiswa baru tentu akan menikmati suasana damai di UKSW. Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk mengasah penalaran. Hidup adalah kesempatan untuk memilih bersikap terhadap realitas disekeliling kita. Kami menganggap perlu mengingatkan itu sejak dini dengan mempertimbangkan hasil penelitian di Amerika oleh Richard Paul,dkk. Mereka mengingatkan tidak hanya para murid atau  mahasiswa saja yang tidak mampu menalar dengan baik, tetapi guru mereka juga mungkin tidak mampu menalar dengan baik (To Reason Well). Mungkin saja tidak semua dosen juga tidak semua profesional dalam bernalar. Tetapi dikalangan ini mungkin banyak juga yang tidak menalar dengan baik. Kami juga mengamati bahwa kebanyakan mahasiswa memasuki ruang kelas tanpa persiapan sama sekali. Persepsi kami menunjukkan bahwa pemahaman terhadap isi kuliah sebelumnya kurang disadari sebagai prasyarat utama (pre-condition) mengikuti kuliah dan tentu menjadi mahasiswa UKSW. Khususnya untuk angkatan 2018 yang telah memperoleh pengenalan berpikir kritis perlu menyadari akan prasyarat utama ini. Semoga capaian prasyarat ini diterapkan semua dosen dan dinilai capaiannya pada setiap perkuliahannya. Hasil dari satu kedisiplinan bukanlah diukur dari kehadiran saja tapi tingkatan penguasaan materi belajar sehingga jelas kita berada ditingkat pemikiran yang mana (the unreflective, the challenge, the beginning and practicing thinkers), kata Richard Paul dan Linda Elder.

Pengenalan pemikiran kritis ini diawali dengan dua seruan para filsuf “to know thyself” (kenalilah diri sendiri), yang erat kaitan dengan “An Unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak teruji bukanlah hidup sesungguhnya).Sudahkah anda mengenal diri sendiri? Anda adalah mahasiswa baru, kenali diri anda sebagai seorang mahasiswa, katakanlah kepada diri anda sendiri, bahwa saya bukan sebagai siswa SMU/SMA lagi, tapi maha-siswa, siswa yang yang agung! Apanya yang agung?

Kenali diri sendiri menjadi sub pokok bahasan dalam tulisan ini. Mengapa UKSW memandang perlu menyajikan MK Pemikiran Kritis secara tersendiri untuk mahasiswa angkatan 2018/2019 ini? Patut dicatat, bahwa FEB-UKSW telah memulai sejak semester I, 2014/2015, kemudian diterapkan pada magister Sistem Informatika (S2), FTI-UKSW sejak semester II TA 2016/2017? UKSW sebagai suatu sistem pembelajaran harus menerapkan pemikiran kritis kepada semua mahasiswa bahkan dosen, apabila pendekatan sistem demikian baru pertama di Indonesia. Sub pokok pembahasan kedua mencuatkan kenallah diri sendiri melalui dialog ala Socrates, antara mahasiswa dan dosen diikuti dengan pengenalan 25 elemen pemikiran kritis seperti telah dikemukan diatas (amati diagram 4 lagi). Sub pokok bahasan ketiga tentang praktek minimalist dalam berpikir kritis Paulian dengan bertitik tolak dari pemahaman konsep dan konseptualisasi. Dalam diagram 4 terlihat bahwa konsep adalah salah satu element dari 25 elemen pemikiran kritis tersebut dan diterapkan (konseptualisasi) pada tiga cerita yang terpilih untuk dibahas. Bagian terakhir adalah kesimpulan dan saran. Pusat perhatian ditekankan pada apa yang selayaknya dilakukan oleh mahasiswa baru angkatan 2018 ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengikuti kuliah pemikiran kritis pada tahun 2019/2020.

Pengertian

Pada dasarnya pengertian dalam kerangka pemikiran kritis Paulian berada dalam tiga sikap proses berpikir yang harus dilalui, yaitu:

  1. Pembentukan sikap
  2. Penerapan etimologi berpikir kritis
  3. Penerapan ke 25 elemen berpikir Kritis Paulian

Critical thinking is self-guided, self-disciplened thinking wich attempts to reason at the highes level of quality in a fair-minded way. People who think critically consistenly attempts to live rationally, reasonable,  empathically. There are kindly aware of the inherently flawed nature of human thinking when left unchecked. They strive to diminish the power of their egocentric and socialcentric tendencies. They use the intellectual tools that critical thinking offers-concepts and principles that enable them to analyze, assess, and improve thinking. They work diligently to develop the intellectual virtues of intellectual integrity, intellectual humility, intellectual civility, intellectual empathy, intellectual sense of justice and confidence in reason.

The etymology & dictionary definition of critical thinking. The concept of critical thinking we adhere to reflects a concept embedded not only in a core body of research over the last 30 to 50 yeasr but also derived from roots in ancient Greek. The word critical derives etymologically from two Greek roots : “kriticos” (meaning discerning judgement) and criterion (meaning standards). Etymologically, then, the word implies the development of “discerning judgement base on standards.” In webster’s new world dictionary, the relevant entry reads “characterized by careful analysis and judgment” and is followed by the gloss, “critical – in its strictest sense – implies an attempt at objective judgment so as to determine both merits and faults”. Applied to thinking, then, we might provisionally define critical thinking that axplicitly aims at well-faunded judgment and hence utilizes appropriate evaluative standards in the attempt to determine the true worth, merit, or value of something.

25 Elemen Berpikir Kritis. Critical thinking is that mode of thinking about any subject, content, or problem – in which the thinker improves the quality of his or her thinking by skillfully taking charge of the structures inherent in thinking and imposing intellectual standard upon them. (Paul and Elder, 2001).

(Materi ini dibagikan dan disampaikan sebagai materi pengantar oleh tim CCTD UKSW dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru UKSW 2019)