Romo Tomas menghantar civitas UKSW memahami manusia

Berfilsafat tentang Manusia

Dr. Thomas Hidya Tjaya dari STF Driyarkara memukau kelas Kursus Filsafat UKSW 2019/2020 di sesi kelima dalam tema Filsafat Manusia. Dengan metodenya yang menekankan pada sistem berpikir, Romo Thomas memulai dengan alasan mengapa perlu belajar Filsafat Manusia. Selain sebagai natur manusia untuk mengetahui realitas (being), termasuk mengetahui dirinya sendiri, juga membantu manusia memahami struktur dasar serta kodratnya guna membuka ruang ke kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas (termasuk ketidakmungkinannya) perihal mengetahui sesuatu.

Pada hakikatnya Filsafat Manusia merefleksikan manusia sebagai manusia seada-adanya. Maka, yang pertama dilakukan adalah membedakan konsep manusia sebagai makluk dan sebagai pengada. Keduanya dibedakan oleh pengandaian ontologis, dimana terma ‘makluk’ (creature) sudah mengandaikan adanya penciptaan (konsep teologis). Filsafat Manusia akhirnya memilih terma “pengada” agar lebih netral. Mengapa? Karena makna manusia harus dipahami dari ‘esensi manusia’ itu sendiri sebagai pengada (being) seperti halnya batu, kayu, planet, tikus, serigala, tanaman dan sebagainya.

Namun, juga ternyata bahwa manusia tidak sekadar pengada melainkan pengada hidup (living being) bersama pengada hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Meski demikian ada fitur pembeda antara manusia dan sesama pengada hidup lainnya, yang membuat manusia sadar untuk mempertanyakan adanya dan ada ada lain.

Persoalannya adalah manusia sudah banyak dibebani pemaknaan dari luar dirinya, sehingga proyek FM pertama-tama adalah membersihkan dari konteks apapun, termasuk keilmuan, dan dari atribut-atribut aksidental yang dilekatkan padanya. Dengan cara ini, setelah ditanggalkan satu persatu atribut eksternal tertinggal hanyalah struktur khas manusia, yang kemudian bisa menjadi dasar dan titik pijak untuk memahami dirinya maupun pengada-pengada lain.

Secara ontologis manusia sebagai pengada hidup (living beings) memiliki beberapa ciri. Pertama, Asimilasi, yaitu manusia berkembang dan mengembangkan diri dengan mengubah apa yang dimakan dan dicerna menjadi substansinya sendiri. Kedua; Rekuperasi yaitu memperbaiki dan memulihkan luka-lukanya dari dalam diri atau substansinya sendiri. Ketiga, Reproduksi diri yakni melipatgandakan diri dan memuat dalam dirinya bibit atau tunas yang akan menjadi suatu pengada hidup baru sebagai penerus spesiesnya. Keempat, Adaptasi dimana ia mampu memberikan tanggapan terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya dan atas keadaan yang ‘mengkondisikan’ eksistensinya. Tanggapan ini berasal dari dalam dirinya sendiri, dan bukan karena mekanisasi atau otomatisasi. Kelima; Penentu finalitas yaitu menjadi tujuan bagi dirinya sendiri (khususnya pada manusia). Hal ini terlihat dalam kegiatan transitif, yakni kegiatan yang memproduksi suatu efek di luar dari pelakunya (melukis, mengukir batu, menulis, dsb.)

Dengan struktur ontologis seperti di atas terbentuk kodratnya sebagai pengada hidup (living beings), yaitu: Memiliki kemampuan untuk menyempurnakan dirinya sendiri (autoperfektif), yaitu tumbuh, mengembangkan diri, mengerti sesuatu, dan mengambil keputusan, dan sebagainya. Dan Kemampuan menyempurnakan diri sendiri ini menunjukkan bahwa pengada hidup memiliki kesatuan substansial (substantial unity) yang membuatnya selalu bersifat identik dengan dirinya, dari kelahiran hingga kematiannya.

Kesatuan substantial memiliki sifat-sifat: PERTAMA, Dinamis dan menstrukturkan, dimana sumber pertama dari kegiatan-kegiatan yang beranekaragam terkoordinasi serupa sebuah energi primordial. Kesatuan substansial inilah yang memungkinkan pengada hidup yang sekompleks manusia dapat bernafas, bergerak, mendengarkan, belajar, dsb. KEDUA, Natural (bukan artifisial), dimana sudah dimiliki pengada hidup sejak awal dan menstrukturkannya sejak awal (bukan hasil penggabungan). Sifat kesatuan substansi ini selalu ada pada setiap tahap perkembangan dan aspek kegiatan pengada hidup. KETIGA, Memiliki kesadaran (sampai batas tertentu), yang menyebabkan pengada hidup hadir pada dirinya sendiri. Kehadiran ini diperlukan agar usaha penyempurnaan dan realisasi dirinya dapat terwujud. Pada manusia, sifat kodrati ini membuatnya dapat berefleksi, berkontemplasi dan mempertanyakan dirinya sendiri. KEEMPAT, Subjektif yaitu menyangkut sebuah ‘aku’ (the I). Kesatuan substansial ini, dialami sebagai subjek atau aku, tidak dapat direduksikan sebagai objek atau alat apapun. KELIMA, Kompleks, dimana pengada terdiri atas berbagai bagian yang tergantung satu sama lain, namun memiliki konfigurasi yang khas sehingga dapat memenuhi suatu fungsi tertentu.

Kuliah yang sangat interaktif berlangsung empat jam tanpa terasa, namun tetap saja tidak menuntaskan pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa manusia selalu butuh waktu yang tidak sedikit untuk memhamai dirinya sendiri, karena memahami diri sendiri merupakan titik tolak memahami dunia. Sejauh pembelajaran di atas, Romo Thomas baru mengantar sampai struktur ontologis manusia pada “fitur-fitur umum” yang dimiliki semua pengada hidup. Yang membedakannya hanyalah level, tetapi secara kodrati semua pengada hidup memilikinya. Ini sebuah ending yang mendebarkan dan membuat penasaran.

Berdialektika tentang Filsafat Politik

Jumat, 7 Februari 2020 bertempat di ruang Probowinoto gedung G UKSW, dilaksanakan kursus filsafat. Kursus kali ini tentang “FIlsafat Politik”, dengan pemateri Dr. F.. Budi Hardiman dari Universitas Pelita Harapan.

Kursus ini dihadiri oleh para dosen dari beberapa fakultas di UKSW.

Budi Hardiman dalam pemaparannya membagi ke dalam dua sessi. Sessi pertama mendeskripsikan tentang manusia sebagai maklum politik, dan sessi kedua menjelaskan tentang kajian filosofis politik kontemporer atas Indonesia.

Dalam membahas sessi pertama, Budi Hardiman memulai dengan negara polis Plato, Machiavelli, dan gambaran manusia politik menurut para filsuf. Dalam gambaran manusia politik, dijelaskan tiga paradigma filsafat politik, yakni politik penaklukan, politik kebebasan, dan politik pemberdayaan.

Selanjutnya pada sessi ke dua dibuka ruang diskusi tentang wajah politik komtemporer di Indonesia saat ini.

Berbagai contoh politik pragmatis dan pencaharian keuntungan semata, ditunjukan oleh para peserta, untuk memahami konteks politik di Indonesia.

Para peserta sangat antusias untuk berdiskusi tentang politik di Indonesia saat ini. Berbagai paradigma ditempatkan secara tepat dalam kajian filsafat politik, sehingga peserta kursus memahami wajah politik Indonesia dalam kacamata filsafat politik.

Belajar Filsafat Ilmu dalam Kursus FIlsafat

Senin, 21 Januari 2020 pukul 16.00 wib hingga 20.30 wib CCTD UKSW mengadakan kursus filsafat di ruang Probowinoto gedung G UKSW. Topik Filsafat ilmu merupakan topik ke tiga dalam enam rangkaian diskusi filsaat. Sebelumnya para peserta kursus telah mempelajari Sejarah Filsafat dan FIlsafat Ketuhanan.

Pemateri utama dalam topik filsafat ilmu adalah Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, yang merupakan pengajar di STF Driyakara Jakarta. Pemateri menyajikan filsafat ilmu sebagai episteme yang terus berkembang dan menyentuh banyak wilayah realitas. Mulai dari penyingkapan kebenaran pengetahuan lewat falsifikasi, verifikasi, hingga rasionalime, kristisisme dan masuk ke fenomenologi, positivisme serta berakhir di idealisme. Perkembangan penyingkapan kebenaran tersebut disebabkan karena keterbatasan manusia dalam memahami realitas. Ilmu tidak hanya disingkapi menggunakan pendekatan ilmu alam, namun juga upaya fisio-sosial yang dikembangkan oleh Comte untuk membentuk hukum sosial, yang berguna untuk meramal sebuah struktur pengetahuan di masa akan datang.

Pada masa renaisans, pengetahuan berkembang secara masif dari ilmu alam hingga menyentuh ranah humaniora. Fenomenologi Husserl membantu para ilmuwan untuk membentuk karakteristik episteme bagi kehidupan humaniora. Pemateri mengajak peserta untuk mendiskusikan metode dan perkembangan karakteristik ilmu dari masa filsafat ilmu alam hingga masa humaniora secara sederhana dan menarik.

Pada akhir sessi, pemateri membahas tentang keberadaan post-truth dan neo-sofisme. Keberadaan kedua hal ini dapat menyebabkan kebenaran menjadi relatif dan subjektif. Untuk itu perlu pemahaman tentang metode pengetahuan yang tepat, sehingga manusia tidak dimanipulasi oleh manipulator kebenaran seperti pengikut post-truth dan neo-sofisme.

Kursus ini diikuti oleh sekitar 40-an dosen dan mahasiswa pasca sarjana dari berbagai disiplin ilmu di UKSW. Peserta sangat menikmati materi yang disajikan dan selalu terlibat dalam diskusi spontan saat materi diberikan.

Pendidikan yang memerdekakan ala Bahruddin

Berpikir kritis harus dimulai dari merdeka dalam belajar. Banyak anak-anak disekitar kita mengalami keterjajahan dalam belajar. Bahkan hingga kaus kaki pun dibuat sedemikian rupa agar seragam, menurut Bahruddin (penggagas komunitas belajar Qaryah Tayyibah dan assesor BAN PAUD/NNF).

Anak-anak tidak akan muncul nalar kreatif dan inovatifnya, apabila terus menerapkan pola pendidikan gaya “bank,” seperti yang hingga saat ini diterapkan dibanyak sekolah-sekolah formal. Pendidikan gaya “bank” akan membuat anak-anak terus menabung pengetahuan yang ditransfer dari guru, dan pada akhirnya mereka hanya akan mencairkan pengetahuan tersebut saat Ujian Nasional. Realitasnya dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak menggunakan pengetahuan yang didapatkan dari sekolah. Dengan demikian gaya “bank” tidak menjawab kebutuhan masyarakat, namun membebani anak-anak dengan standar yang terlampau tinggi.

Bahrudin saat menyampaikan materinya di Forum Diskusi Filsafat UKSW pada tanggal 17 Januari 2020 pukul 14.00-18.00, dengan santai mengatakan bahwa untuk mendidik anak menjadi pintar tidak perlu guru yang punya banyak pengetahuan. Namun lebih butuh guru yang siap ngayomin anak tersebut. Guru harus menjadi teman anak diskusi, dan bermain, sehingga kreatifitas anak muncul.

Dalam diskusi yang digagas oleh Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis (P3K) dan Pusat Pengajaran & Pembelajaran Inovatif (P3I), dan bertempat di Gedung Administrasi Pusat (GAP) UKSW, Bahruddin mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang membebaskan membutuhkan kemampuan investigasi realitas disekitar lingkungan anak. Dengan melakukan investigasi realitas, maka pembelajaran akan lebih menyenangkan dan mengoptimalkan kinerja otak sang anak.

DIskusi yang dihadiri sekitar 30-an peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa pasca sarjana ini, diakhiri dengan sessi tanya jawab yang memunculkan banyak ide untuk menerapkan pendidikan yang memerdekakan disekitar kita. Bahruddin telah berhasil dengan komunitas belajar Qaryah Tayyibah untuk menjadi sumber inspirasi pendidikan yang memerdekakan di Indonesia. Sudah saatnya nalar kritis bebas dengan pola pendidikan yang membebaskan.

Dialektika filsafat ketuhanan di UKSW

CCTD UKSW kembali melaksanakan kursus filsafat dengan topik “Filsafat Ketuhanan”. Kursus dilakukan pada hari senin (2/12/2019), bertempat di ruang Probowinoto gedung G UKSW, dari pukul 16.00 hingga 20.00 wib. Pemaparan topik ini, dibagi dalam dua sessi, yakni sessi pertama tentang dialektika filsafat ketuhanan dengan atheis, agnostik dan pemikiran lainnya, yang menyerang eksistensi Tuhan. Dan sessi kedua, tentang hakekat filsafat ketuhanan.

Prof. Franz Magnis-Suseno sebagai pemateri, menyajkan konten filsafat ketuhanan secara menarik. Ia memaparkan penolakan eksistensi Tuhan lewat beberapa pemikiran masa modern, yakni pemikiran filsuf Feurbach, bahwa Tuhan merupakan proyeksi diri manusia. Juga Sigmund Freud seorang psikoanalis yang menyatakan bahwa agama merupakan suatu bentuk ilusi. Serta filsuf Jean-Paul Sartre, yang mengungkapkan bahwa dengan adanya Allah, maka manusia tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Dan bahkan hingga munculnya Agnostisisme pada abad ke-20, yang menyatakan bahwa Allah tidak dapat diketahui. Magnis mengungkapkan bahwa, pemikiran-pemikiran tersebut tidak mampu menjelaskan tentang Tuhan, dan mengakhirinya dengan ketiadaan Tuhan. Dan hal tersebut merupakan kekeliruan dalam memahami filsafat ketuhanan. Karena menurut Magnis, dalam berbicara tentang Tuhan tidak bisa menggunakan bahasa yang univok, namun menggunakan bahasa penyangkalan. Konsep “hati nurani” merupakan bentuk memahami Tuhan dalam diri manusia. Karena hati nurani merupakan obyek yang sudah ada sejak manusia lahir dan terus berkembang mengawal penalaran manusia tentang sesuatu. Dengan demikian, Tuhan bukanlah materi yang sama dengan obyek filsafat lainnya.

Selanjutnya Magnis mengungkapkan bahwa dalam filsafat Ketuhan, berbicara tentang imanensi dan transedensi, kehendak bebas manusia, dan penderitaan. Dengan mendialektikakan ketiga hal tersebut, maka akan terbentuk diskursus tentang Tuhan.

Dengan pemaparan demikian, maka menimbulkan banyak diskusi. Peserta kursus dan Magnis mendiskusikan berbagai hal tentang ketuhanan. Dalam diskusi tersebut, Magnis membatasi bahwa Tuhan yang dipahami dalam kursus ini, menggunakan metode filsafat. Untuk itu terbuka untuk didialektikakan. Hal ini berbeda dengan Tuhan spiritual dalam filsafat timur. Selain itu, konsep “hati nurani” sebagai bagian dari etika juga diposisikan secara tepat dalam memahami Tuhan.

Magnis dan peserta mampu membuat empat jam kursus filsafat tidak membosankan. Dialektika yang dibangun, serta kekayaan sudut pandang menambah gairah ruang diskusi. Diskusi dalam kursus Filsafat berakhir pada pukul 20.00 wib. Dan diakhiri dengan foto bersama kurang lebih 58 peserta kursus dengan Franz Magnis-Suseno.

Memahami Sejarah Filsafat di Probowinoto

Hari Senin (25/11/2019), Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis (P3K) UKSW melaksanakan Kursus Filsafat di ruang Probowinoto UKSW. Kursus ini diikuti oleh sekitar 56 peserta, yang merupakan dosen-dosen dari berbagai fakultas di UKSW dan beberapa mahasiswa Pasca Sarjana UKSW.

Kursus Filsafat yang diselenggarakan oleh P3K UKSW (atau biasa disebut juga Center for Critical Thinking Development – CCTD), merupakan salah satu program kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan ruh filsafat dalam aktivitas akademik di kampus. Dengan mendatangkan pemateri dari STF Driyakara, maka diharapkan para peserta akan lebih memahami kedudukan filsafat dalam pohon ilmu, serta peserta mampu menerapkannya dalam kehidupan akademik.

Topik Sejarah Filsafat yang dibawakan oleh Dr. A. Setyo Wibowo, merupakan topik pertama diantara enam topik lainnya yang akan diberikan kepada peserta. Sebagai pemateri pertama, Dr. A. Setyo Wibowo mampu memaparkan sejarah panjang perkembangan filsafat, yang juga telah mempengaruhi perkembangan pemikiran manusia. Filsafat Pra Socratic, Platon, Aristoteles hingga Immanuel Kant, dijabarkan dengan memperhatikan detail konten filosofi, serta disajikan dengan metafora yang menarik. Keluwesan dan kelugasan digunakan oleh pemateri untuk menghipnotis peserta, dalam memahami sejarah filsafat barat. Hingga tanpa disadari waktu 4 jam durasi kursus dilewati oleh peserta dengan tidak membosankan.

Kegiatan kursus berlangsung dari pukul 16.00 wib hingga 20.00 wib. Dua jam digunakan oleh pemateri untuk menyampaikan seluruh materi. Selanjutnya para peserta dan pemateri melakukan break dan dijamu makan malam selama 30 menit. Dan setelah makan malam, kursus dilanjutkan dengan sessi tanya jawab hingga akhir.

Pada akhir kursus, beberapa peserta berpendapat bahwa kegiatan ini harus sering dilakukan. Agar filsafat yang terkesan “membosankan dan menakutkan” oleh orang-orang yang tidak memahami filsafat, dapat kembali ke rumahnya (universitas) dan dapat mewarnai dialektika ilmu pengetahuan.

Workshop Berpikir Kritis Batch 2

Ditengah suasana duka berpulangnya Ketua Pusat Studi CCTD(Center of Critical Thinking Development) UKSW,  Yohanes Daniel Zakarias, SH.,MA., ke Rumah Bapa di Surga tanggal 24Agustus 2019, bertepatan dengan penutupan kegiatan Workshop Berpikir Kritis (Batch 2). Kegiatan hari terakhir workshop adalah presentasi draft tulisan dan Silabus peserta, serta pembahasan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Workshop yang diikuti dosen UKSW itu berlangsung sejak tanggal 24 Juni 2019,dan berkelanjutan hingga sepuluh kali pertemuan. Kegiatan dilakukan setiap hari Senin pukul 16.00-18.00 WIB, bertempat di ruang F106 UKSW. Jumlah peserta yang berhasil menyelesaikan kegiatan Workshop sebanyak 12 orang.

Adapun materi-materi yang dibahas dan didiskusikan, yakni What Stages of Your Critical Thinking; Mengatasi Egosentrisitas dan Sosiosentrisitas; Universal Intellectual Standart; Elements of Reasoning;   Intellectual Traits (Kebajikan Intelektual); Socratic Disccusion; dan Implementasi  Berpikir Kritis dalam empat domain aktivitas akademik, yaitu Mendengar (Critical Listening), Membaca  (Critical Reading), Menulis (Critical Writing), dan Berbicara (Critical Speaking).

Sebagai produk akhir dari kegiatan, setiap peserta mengerjakan tiga tugas mandiri, sebagai bentuk pemahaman mereka tentang materi-materi yang telah dipelajari. Adapun produk yang dihasilkan adalah silabus MK Berpikir Kritis yang disesuaikan dengan kebutuhan Progdi/Fakultas,  draf artikel ilmiah populer terkait disiplin ilmu yang ditekuni, dan  definisi Berpikir Kritis.  Dengan demikian, karena terdapat 12 peserta maka dihasilkan 12 Silabus, 12 artikel, dan 12 definisi berpikir kritis. 

Tidak hanya itu, peserta juga telah mendiskusikan nilai-nilai UKSW untuk dimasukkan dalam Standar Intelektual dan Kebajikan Intelektual (intellectual traits). Sebuah model Berpikir Kritis yang khas UKSW dicoba untuk diinisiasi, yang diharapkan akan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi pematangan.

Dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL), disepakati akan dilakukan diskusi-diskusi rutin dan penelitian-penelitian internal kampus dalam rangka pengembangan keterampilan berpikir kritis di UKSW.  Sebagaimana diketahui, Pemikiran Kritis merupakan tools untuk melakukan aktivitas-aktivitas penalaran secara berkualitas, berdasarkan standar-standar obyektif dan kriteria baku, dengan tujuan akhir menciptakan sikap intelektual yang rendah hati (intellectual humility) dan adil (fair-minded).

Dengan berakhirnya Workshop Berpikir Kritis Batch 2 ini, direncanakan segera dibuka Workshop Batch 3 dalam waktu dekat. Sebagai informasi tambahan, Worskhop Berpikir Kritis direncanakan dilakukan secara rutin dengan maksud mendorong pembelajaran bersama agar terbentuk kesamaan persepsi antara aktivis akademik di lingkungan UKSW,terkait upaya ‘pengarusutamaan’  Pemikiran Kritis di UKSW. Dengan demikian diharapkan akan dapat menciptakan warga akademik yang kritis, kreatif, inovatif dan takut Tuhan sesuai dengan visi dan nilai-nilai UKSW.

Pembentukan Pusat Pemikiran Kritis, dalam perayaan sederhana akreditasi A UKSW

Rabu, 25 April 2018, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengadakan ucapan syukur sederhana terkait perolehan Akreditasi A oleh UKSW dari Badan Akreditasi Nasional (BAN), sebagai otoritas penjaminan mutu penyelenggaraan lembaga pendidikan tinggi khususnya dalam hal akreditasi institusi perguruan tinggi.

Dalam acara yang dihadiri oleh wartawan dari media cetak dan elektronik ini, hadir jajaran Pimpinan UKSW dan juga tim Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis atau Center for Critical Thinking UKSW.

Neil Semuel Rupidara, Rektor UKSW, menyatakan, sekalipun sudah terakreditasi A masih banyak yang harus diperbaiki serta tidak boleh merasa berpuas diri. “Hasil ini harus melecut semangat kami untuk melakukan yang lebih baik. Bagi UKSW hasil ini justru harus menggugah warga kampusuntuk melakukan perubahan yang lebih baik. Serta memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang lebih baik tidak hanya bagi mahasiswa tapi juga masyarakat, pemerintahan, dan lainnya. Oleh sebab itu sebagai salah satu bentuk pelayanan yang akan kami berikan yaitu melalui konsep critical thinking,” paparnya.

Dalam acara pengucapan syukur sederhana itu, UKSW membentuk Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis atau Center for Critical Thinking. Diharapkan melalui pusat pengembangan ini, para dosen akan dilatih memanfaatkan kerangka berpikir kristis dalam setiap interaksi ilmiahnya dengan para mahasiswa dan juga peneliti.

Acara sederhana tersebut diakhiri dengan pemotongan nasi tumpeng dan makan bersama antara pimpinan Universitas dan para wartawan.