Romo Tomas menghantar civitas UKSW memahami manusia

Berfilsafat tentang Manusia

Dr. Thomas Hidya Tjaya dari STF Driyarkara memukau kelas Kursus Filsafat UKSW 2019/2020 di sesi kelima dalam tema Filsafat Manusia. Dengan metodenya yang menekankan pada sistem berpikir, Romo Thomas memulai dengan alasan mengapa perlu belajar Filsafat Manusia. Selain sebagai natur manusia untuk mengetahui realitas (being), termasuk mengetahui dirinya sendiri, juga membantu manusia memahami struktur dasar serta kodratnya guna membuka ruang ke kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas (termasuk ketidakmungkinannya) perihal mengetahui sesuatu.

Pada hakikatnya Filsafat Manusia merefleksikan manusia sebagai manusia seada-adanya. Maka, yang pertama dilakukan adalah membedakan konsep manusia sebagai makluk dan sebagai pengada. Keduanya dibedakan oleh pengandaian ontologis, dimana terma ‘makluk’ (creature) sudah mengandaikan adanya penciptaan (konsep teologis). Filsafat Manusia akhirnya memilih terma “pengada” agar lebih netral. Mengapa? Karena makna manusia harus dipahami dari ‘esensi manusia’ itu sendiri sebagai pengada (being) seperti halnya batu, kayu, planet, tikus, serigala, tanaman dan sebagainya.

Namun, juga ternyata bahwa manusia tidak sekadar pengada melainkan pengada hidup (living being) bersama pengada hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Meski demikian ada fitur pembeda antara manusia dan sesama pengada hidup lainnya, yang membuat manusia sadar untuk mempertanyakan adanya dan ada ada lain.

Persoalannya adalah manusia sudah banyak dibebani pemaknaan dari luar dirinya, sehingga proyek FM pertama-tama adalah membersihkan dari konteks apapun, termasuk keilmuan, dan dari atribut-atribut aksidental yang dilekatkan padanya. Dengan cara ini, setelah ditanggalkan satu persatu atribut eksternal tertinggal hanyalah struktur khas manusia, yang kemudian bisa menjadi dasar dan titik pijak untuk memahami dirinya maupun pengada-pengada lain.

Secara ontologis manusia sebagai pengada hidup (living beings) memiliki beberapa ciri. Pertama, Asimilasi, yaitu manusia berkembang dan mengembangkan diri dengan mengubah apa yang dimakan dan dicerna menjadi substansinya sendiri. Kedua; Rekuperasi yaitu memperbaiki dan memulihkan luka-lukanya dari dalam diri atau substansinya sendiri. Ketiga, Reproduksi diri yakni melipatgandakan diri dan memuat dalam dirinya bibit atau tunas yang akan menjadi suatu pengada hidup baru sebagai penerus spesiesnya. Keempat, Adaptasi dimana ia mampu memberikan tanggapan terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya dan atas keadaan yang ‘mengkondisikan’ eksistensinya. Tanggapan ini berasal dari dalam dirinya sendiri, dan bukan karena mekanisasi atau otomatisasi. Kelima; Penentu finalitas yaitu menjadi tujuan bagi dirinya sendiri (khususnya pada manusia). Hal ini terlihat dalam kegiatan transitif, yakni kegiatan yang memproduksi suatu efek di luar dari pelakunya (melukis, mengukir batu, menulis, dsb.)

Dengan struktur ontologis seperti di atas terbentuk kodratnya sebagai pengada hidup (living beings), yaitu: Memiliki kemampuan untuk menyempurnakan dirinya sendiri (autoperfektif), yaitu tumbuh, mengembangkan diri, mengerti sesuatu, dan mengambil keputusan, dan sebagainya. Dan Kemampuan menyempurnakan diri sendiri ini menunjukkan bahwa pengada hidup memiliki kesatuan substansial (substantial unity) yang membuatnya selalu bersifat identik dengan dirinya, dari kelahiran hingga kematiannya.

Kesatuan substantial memiliki sifat-sifat: PERTAMA, Dinamis dan menstrukturkan, dimana sumber pertama dari kegiatan-kegiatan yang beranekaragam terkoordinasi serupa sebuah energi primordial. Kesatuan substansial inilah yang memungkinkan pengada hidup yang sekompleks manusia dapat bernafas, bergerak, mendengarkan, belajar, dsb. KEDUA, Natural (bukan artifisial), dimana sudah dimiliki pengada hidup sejak awal dan menstrukturkannya sejak awal (bukan hasil penggabungan). Sifat kesatuan substansi ini selalu ada pada setiap tahap perkembangan dan aspek kegiatan pengada hidup. KETIGA, Memiliki kesadaran (sampai batas tertentu), yang menyebabkan pengada hidup hadir pada dirinya sendiri. Kehadiran ini diperlukan agar usaha penyempurnaan dan realisasi dirinya dapat terwujud. Pada manusia, sifat kodrati ini membuatnya dapat berefleksi, berkontemplasi dan mempertanyakan dirinya sendiri. KEEMPAT, Subjektif yaitu menyangkut sebuah ‘aku’ (the I). Kesatuan substansial ini, dialami sebagai subjek atau aku, tidak dapat direduksikan sebagai objek atau alat apapun. KELIMA, Kompleks, dimana pengada terdiri atas berbagai bagian yang tergantung satu sama lain, namun memiliki konfigurasi yang khas sehingga dapat memenuhi suatu fungsi tertentu.

Kuliah yang sangat interaktif berlangsung empat jam tanpa terasa, namun tetap saja tidak menuntaskan pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa manusia selalu butuh waktu yang tidak sedikit untuk memhamai dirinya sendiri, karena memahami diri sendiri merupakan titik tolak memahami dunia. Sejauh pembelajaran di atas, Romo Thomas baru mengantar sampai struktur ontologis manusia pada “fitur-fitur umum” yang dimiliki semua pengada hidup. Yang membedakannya hanyalah level, tetapi secara kodrati semua pengada hidup memilikinya. Ini sebuah ending yang mendebarkan dan membuat penasaran.

Berdialektika tentang Filsafat Politik

Jumat, 7 Februari 2020 bertempat di ruang Probowinoto gedung G UKSW, dilaksanakan kursus filsafat. Kursus kali ini tentang “FIlsafat Politik”, dengan pemateri Dr. F.. Budi Hardiman dari Universitas Pelita Harapan.

Kursus ini dihadiri oleh para dosen dari beberapa fakultas di UKSW.

Budi Hardiman dalam pemaparannya membagi ke dalam dua sessi. Sessi pertama mendeskripsikan tentang manusia sebagai maklum politik, dan sessi kedua menjelaskan tentang kajian filosofis politik kontemporer atas Indonesia.

Dalam membahas sessi pertama, Budi Hardiman memulai dengan negara polis Plato, Machiavelli, dan gambaran manusia politik menurut para filsuf. Dalam gambaran manusia politik, dijelaskan tiga paradigma filsafat politik, yakni politik penaklukan, politik kebebasan, dan politik pemberdayaan.

Selanjutnya pada sessi ke dua dibuka ruang diskusi tentang wajah politik komtemporer di Indonesia saat ini.

Berbagai contoh politik pragmatis dan pencaharian keuntungan semata, ditunjukan oleh para peserta, untuk memahami konteks politik di Indonesia.

Para peserta sangat antusias untuk berdiskusi tentang politik di Indonesia saat ini. Berbagai paradigma ditempatkan secara tepat dalam kajian filsafat politik, sehingga peserta kursus memahami wajah politik Indonesia dalam kacamata filsafat politik.

Pendidikan yang Membebaskan ala Paulo Freire

Latar Berpikir

Terpilihnya founder dan CEO Gojek, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo mengagetkan banyak pengamat maupun praktisi pendidikan.  Ide presiden dibalik penunjukkan Nadiem Makarim, seperti dilansir NCBC Indonesia (24/10/2019) adalah: “perlu orang yang mengerti bagaimana mengimplementasikan inovasi-inovasi yang ada. Berani keluar dari kotak, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton sehingga memunculkan sebuah loncatan-loncatan besar…”[2] Mengawali kepemimpinannya Nadiem mengeluarkan apa yang disebut “4 Kebijakan Merdeka Belajar,”  yaitu (1) menghapus USBN, (2) mengganti system Ujian Nasional, (3) Perampingan RPP dan (4) Sistem Penerimaaan Peserta Didik Baru.  Pada kesempatan lain, Mendikbud mengatakan, “Saya ingin mengajak mengubah paradigma kepemimpinan yang tadinya itu sebagai penguasa atau pengendali atau regulator, menjadi paradigma kepemimpinan yang melayani.[3]”    Sebagai kelanjutannya, 24 Januari 2020 Mendikbud mendeklarasikan program Kampus Merdeka, yang mencakup empat kebijakan pokok, yaitu otonomi PT dalam membuka Progdi baru,  re-akreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela, kebebasan bagi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH), serta pemberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks.

Frasa “Merdeka Belajar” yang digunakan oleh Mendikbud, serta gebrakan-gebrakan yang dicanangkannya, cukup dekat dengan pikiran-pikiran filosofis (pedagogi) filsuf Brazil yang sangat mendunia, yaitu Paulo Freire. Lantaran frasa itu sudah melekat pada Freire, setiap berbicara tentang Pendidikan yang Memerdekakan atau Membebaskan hampir pasti berbicara tentang pikiran-pikiran filsafat pendidikan dari Freire.

Paulo Regrus Neves Freire atau popular sebagai Paulo Freire lahir di Recife, Brazil pada 19 September 1921, dari keluarga kelas menengah.  Ibunya seorang Katolik taat, tetapi ayahnya seorang ‘saintis’ yang berprofesi sebagai polisi militer. Posisi saintis lebih menggambarkan ‘status religius” sang ayah.  Perbedaan status kegamaan kedua orang tuanya menjadi iklim yang membentuk pandangan-pandangan filosofis Freire yang terbuka, rasional, dan humanis.

Ketika depresi ekonomi melanda dunia, terutama Amerika di tahun 1929, Brazil juga terkena dampak.  Kehidupan ekonomi keluarga Freire mengalami penurunan, dan makin parah ketika ayahnya meninggal 1931 sewaktu Friere berusia hampir 10 tahun. Keluarga itu benar-benar jatuh miskin dan kerap menghadapi kelaparan. Tetapi kemudian kembali mengalami pemulihan sehingga memungkinkan Friere menyelesaikan kuliahnya. Setelah tamat ia bekerja di Dinas Kesejahteraan Sosial dimana ia banyak berurusan dengan kelompok-kelompok miskin kota. Pengalaman langsung dan pekerjaannya ini memberikan pemahaman mendalam baginya tentang esensi kemiskinan serta masuk dalam perenungan filosofis untuk mencari terobosan solutif.  Inilah yang menghentarnya kepada praxis filosofis ala Marxian.

Tahun 1960-an, ¾ rakyat Barzil masih tergolong buta huruf[4]. Pemilu hanya bisa diikuti oleh rakyat yang bisa membaca dan menulis karenanya sebagian besar rakyat kehilangan hak pilih.  Hal ini menyulitkan terjadinya perubahan. Dalam posisinya ketika itu sebagai Direktur Pengabdian Masyarakat di Universitas Recife, Freire mengembangkan program-program pemberantasan buta huruf yang dianggap berhasil. Ini berkat dukungan politik dari pemerintahan presiden Joau Goulart. Sayangnya, kudeta milter tahun 1964 menyingkirkan Goulart, dan kelompok progresif termasuk Freire ditangkap serta dijebloskan ke penjara, kemudian diasingkan ke Chili. Di Chili Freire sukses mengembangkan metode yang membantu mengentaskan jumlah buta huruf secara mengesankan di negara tetangga dekat Brazil itu.  Dalam pengasingan inilah ia menyempurnakan metode pendidikan yang digumulinya, dan meraih reputasi internasional di bidang pedagogi terutama setelah menerbitkan salahsatu karya masterpiece-nya, yang masih banyak dirujuk hingga kini, yaitu Pedagogy of the Oppressed (1970). Ia menjadi Profesor dan mengajar tamu di berbagai universitas di Amerika, Eropa kemudian juga Asia dan Afrika.  Antara tahun 1970-1979 ia menjadi konsultan pendidikan untuk Dewan Gereja Dunia (WCC) di Jenewa, sebelum akhirnya kembali ke Brazil dan menjadi Menteri Pendidikan.

Karya-karya lainnya yang terkenal:

  1. Cultural Action for Freedom (1972)
  2. Education for Critical Consciousness (1973)
  3. Education: The Practice of Freedom (1976)
  4. The Politics of Education: Culture, Power and Liberation (1985)
  5. A Pedagogy for Liberation: Dialog on Transforming Education (1987)
  6. Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed  (1994)
  7. Teachers as Cultural Workers (2005) 

Pemikiran-pemikiran filosofis maupun teologis yang memengaruhi corak filsafat pendidikan Paulo Freire antara lain:

  • Marxisme; yaitu filsafatnya bersifat praxis, reflektif terhadap konteks dan berpola aksi-refleksi.
  • Eksitensialisme; menekankan pada autentisitas pendidikan serta hakikat pembebasan/kebebasan individu sebagai ultimate.
  • Fenomenologi; yang menekankan pada kesadaran aktif subyek sebagai syarat pencarian pengetahuan dan eksplorasi realitas, juga kesadaran posisi diri dalam realitas.
  • Teologi Pembebasan; yang menekankan pada tiga isu, yaitu pembebasan manusia dari ancaman globalisasi, pembebasan manusia dari berbagai ancaman dosa sosial, dan perlunya paradigma baru untuk memperbaiki sistem dan struktur social yang telah rusak.

Kritik dan Pandangan tentang Pendidikan

Freire mengembangkan kritik yang tajam terhadap dunia pendidikan. Menurutnya, esensi pendidikan seharusnya adalah membebaskan.  Tidak seperti pendidikan umumnya, yang bukan saja tidak membebaskan, bahkan secara sistemik menciptakan penindasan.

Pandangan dan Kritiknya terhadap sistem pendidikan antara lain:

  • Pendidikan di dunia berkembang berorientasi pada kepentingan kolonial, gayanya kolonial yang diinisiasi untuk mempersiapkan rakyat terjajah bekerja bagi kolonial dengan gaji serendah-rendahnya.  Itulah sebabnya, pendidikan di Negara-negara terjajah dikondisikan untuk kepentingan kolonial sehingga terkelola dalam iklim menindas.
  • Pendidikan sudah salah arah karena melatih orang untuk kerja, bukannya membebaskan manusia dari ketertindasan kemudian memperbaiki sistem dan struktur masyarakat yang menindas dan tidak adil. Tentu saja ‘melatihkan keterampilan’ itu baik, tetapi bukanlah esensi dari pendidikan.  Sebab, sudah ada lembaga-lembaga pelatihan yang dibangun untuk melatihkan keterampilan.
  • Pendidikan seharusnya merupakan alat untuk membebaskan manusia dari ketertindasan. Pendidikan membebaskan peserta didik dari segala situasi terkekang dan membentuk kesadaran kritisnya terhadap realitas. Pendidikan menghasilkan manusia-manusia kritis yang menjadikan konteks (lingkungan sekitar) sebagai ‘laboratorium,’  yaitu dengan metode menginvestigasi  realitas atau konteks.  Dengan kata lain, manusia kritis adalah yang mengenal lingkungannya, potensi-potensinya, dan bertumbuh darinya serta mengembangkannya.
  • Pendidikan melanggengkan struktur yang sudah ada karena memang tidak direncanakan untuk mentransformasinya.  Maka, bila struktur masyarakatnya sudah menindas dan tidak adil akan menjadi lestari oleh sistem pendidikan model itu. Seharusnya pendidikan membebaskan peserta didik, lalu peserta didik inilah yang akan membebaskan struktur dan sistem sosial.
  • Pendidikan seharusnya merupakan proses humanisasi, yaitu menjadikan peserta didik menjadi manusia sejati, bukan melakukan dehumanisasi dengan merampas kebebasan dan mengekang kreatifitas peserta didik.
  • Pendidikan yang dialami oleh “kaum-kaum tertindas” selama ini tak ubahnya seperti pendidikan dengan “sistem bank” (banking education) dimana guru berperan sebagai subyek yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid, sedangkan murid hanya sebuah deposit belaka. Pendidikan seperti ini merupakan  bentuk penindasan terselubung terhadap kreatifitas murid. Murid dituntut mengikuti jalan pemikiran guru tanpa diberi kesempatan untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Alternatif agar terbebas dari penindasan gaya pendidikan “sistem bank” adalah apa yang disebutnya metode “pendidikan hadap masalah” (problem-posing education).  Ketika membahas topik ini, Ira Shor[5] mengaitkannya dengan pedagogi kritis Paulo Freire, yang menurutnya esensi karya Freire terletak pada fokus problem-posing sebagai dasar pendidikan dialogis, bagaimana resistensi terhadap proses ini dapat diatasi, dan bagaimana pertanyaan tentang kekuasaan dan pengetahuan menjadi ekspresi sentral dari perkembangan kesadaran kritis.
  • Pendidikan konvensional bersifat antidialogis dan satu arah. Model pendidikan antidialogis ditandai dengan usaha menguasai manusia, sedangkan model pendidikan dialogis selalu bersifat kooperatif. Didalam “Pedagogy of the Oppressed[6]” disebutkan bahwa teori-teori tindakan antidialogis dikenal istilah-istilah antara lain penaklukan, pecah dan kuasai, manipulasi, dan serangan budaya, dan sejenisnya. Sementara teori-teori tindakan dialogis menggunakan istilah-istilah seperti kerja sama, persatuan untuk pembebasan, organisasi, dan sintesa kebudayaan.
  • Pendidikan seharusnya berbasis kultural, yaitu menjawab kebutuhan aktual kita, kebutuhan aktual masyarakat kita. Artinya, tujuan pendidikan pada akhirnya untuk memahami budaya dan mengembangkannya.  Bukannya meninggalkan budaya sendiri  dan menggantinya dengan budaya lain.
  • Transformasi pendidikan tidak akan terjadi tanpa transformasi sosial. Transformasi pendidikan seharusnya menjadikan manusia sebagai subyek, membebaskan peserta didik, karena merekalah yang akan mentransformasi masyarakat. Jadi, transformasi masyarakat hanya niscaya melalui transformasi pendidikan yang fokus ke peserta didik sebagai subyek aktif yang bermakna. Di sini Freire menegaskan pendidikan sebagai praxis pembebasan, dimana nilai-nilainya bersifat humanistik.

Kontinum Kesadaran

Secara umum, menurut Freire, pendidikan harus bisa membentuk kesadaran kritis peserta didik. Transformasi menuju kesadaran kritis berlangsung melalui tiga tahap, yaitu kesadaran Magis, kesadaran Naif dan kesadaran Kritis.  Sebelum tahapan kesadaran Magis disebut sebagai kondisi pra kesadaran atau kesadaran intransitif.  Lalu, tahapan antara kesadaran Naif dan kesadaran Kritis terdapat kesadaran Fanatik yang disebutnya sangat berbahaya. Pada tahapan tertinggi, yaitu kesadaran Kritis orang sudah dapat melepaskan diri dari ketertindasan, dan secara kritis memiliki daya investigatif terhadap realitas dan lingkungan sekitarnya sehingga mentransformasi masyarakat (sistem dan struktur sosial).

  1. “Kesadaran” intransitive (pra kesadaran), adalah situasi dimana orang belum sadar terhadap keadaan organisasi. Karena itu fokusnya hanya pada gaji, keterpenuhan kebutuhan materi: “yang penting kebutuhan makan minum terpenuhi,” dan sejenisnya. Hidup seolah hanya menjadi mesin pemenuhan kebutuhan fisik, dan tidak perduli dengan keadaan di luarnya.
  • Kesadaran Magis: menggunakan argumen alamiah: “memang nasib saya sudah begini, sudah takdir tuhan bagi saya seperti itu.”  Freire menyebutnya sebagai mitos inferioritas alamiah, yang berciri deterministik dan fatalistik. Orang sadar akan keadaan sebenarnya, namun tidak tahu apa yang perlu dilakukan. “Saya hanya orang kecil di sini, bisa buat apa?” Orangnya pasrah sepenuhnya pada keadaan. Tipe ini akan mudah dimanfaatkan oleh kaum penindas. Merupakan kesadaran level terbawah. Orientasinya: PASRAH PADA KEADAAN
  • Kesadaran Naif.  Tipe ini sudah sadar adanya penindasan. Sadar ada masalah. Hanya saja pengetahuannya belum memadai, situasinya belum memungkinkan untuk berbuat apa-apa untuk merubah keadaan atau berjuang secara mandiri.  Ia merujuk masa lalu, bahwa dulu keadaan pernah sangat baik, mempersoalkan masalah ini dan itu, berdebat, menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan sebagainya. Orientasinya  MENGGESER FOKUS (MASALAH) ke orang lain.
  • Kesadaran fanatik.   Ia mengerti ada masalah, ada sistem yang menindas, namun alih-alih mencari solusi justru ia mencari penindas baru untuk mengganti penguasa (penindas) agar balik menindas. Yang terjadi adalah mengganti penindas, sementara struktur dan sistem penindasan tetap lestari.  Kesadaran di level ini sangat berbahaya, karenanya Freire menyebutnya dengan “destructive fanaticism”  atau  “a sensation of total collapse of their world.”[7]  Orientasi: MERAWAT PENINDASAN.
  • Kesadaran Kritis.  Sadar ada masalah, berorientasi mencari solusi dan proaktif melibatkan diri membuat terobosan atau sekurangnya ingin membuka ruang dialog untuk menginisiasi perubahan.  Tidak mau pasrah pada masalah, tidak mau menambah masalah dengan mencari kambing hitam. Melainkan aktif mencari solusi untuk keluar dari masalah atau terlepas dari ‘rantai penindasan.’ Orientasi: MEMUTUS RANTAI PENINDASAN MENUJU PEMBEBASAN. Pada tingkat kesadaran ini, orang mau aktif mengintervensi dunia sebagai  “transformers of that world”[8] sebagaimana ungkapan Freire, “education does not change the world.  Education changes people. People change the world.”

Penutup

Hingga saat ini filsafat pendidikan yang membebaskan ala Paulo Freire nampak makin relevan.  Beberapa kali menteri pendidikan, Nadiem Makarim menekankan tentang sistem  pendidikan yang membebaskan, pendidikan yang menyenangkan, yang beorientasi produk/hasil, dan sejenisnya, merupakan konfirmasi atas kebenaran kritik Freire. Ide Mendikbud menghilangkan Ujian Nasional (UN) disebut sebagai salah satu bentuk upaya memerdekakan pola pendidikan lama.  Sejumlah komentar menyatakan bukan hanya murid yang dibebaskan tetapi juga guru.  Sebagai ganti UN, seperti disampaikan Mendikbud dalam Rapat Koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten /Kota Se-Indonesia di Jakarta 11 Desember 2019, yaitu asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. [9]

Ketika pendidikan kita masih fokus pada pengendalian, transfer pengetahuan, komunikasi belajar mengajar yang asimetris, memperlakukan mahasiswa sebagai pembelajar dan guru atau dosen sebagai pengajar dan sumber utama, suasana pendidikan yang menekan, tidak menggembirakan, semua itu oleh Freire dianggap sebagai bentuk penindasan. 

Pendidikan dan proses belajar mengajar seharusnya membebaskan, menjadikan siswa sebagai subyek, dosen atau pengajar sebagai pendamping atau fasilitator yang memfasilitasi mahasiswa menemukan dirinya, kekuatan dan talentanya, passion untuk mengobservasi dan mengeksplorasi lingkungan dan memahaminya, menjelajah dan mengembangkan sendiri pengetahuan sesuai kebutuhannya.  Melalui cara itulah transformasi struktur dan sistem sosial dimungkinkan terjadi.

Apakah UKSW sudah ada dalam situasi ideal ala filsafat pendidikan Paulo Freire? Tentu saja, belum.  Akankah UKSW bergerak ke arah itu?  Tergantung pada tekad, komitmen dan kemauan kerja keras kita semua. 


[1] Catatan pengantar untuk diskusi Filsafat Taman, “Pendidikan yang Membebaskan ala Paulo Freire” 17 Januari 2020 di taman Noto UKSW bersama Ahmad Bahruddin, inisiator dan Ketua Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga.

[2] Cnbcindonesia.com (dikunjungi 17/01/2020)

[3] Pikiranrakyat.com (dikunjungi 17/01/2020)

[4] Freire, Paulo (2005, first published 1974).  Education for Critical Consciousness. London and New Your: Continuum, halaman 37

[5] Mclaren, Peter & Leonard, Peter (Eds). (1993).  Paulo Freire: a Critcal Encounter. London & New York: Rountladge. Hal.25-26

[6] 1970: 109. Lihat juga: Freire, Paulo (2005, first published 1974). Ibid. Halaman 40-42

[7] Pedagogy of the Oppressed (1970: 35-36)

[8] Ibid, hal.73

[9] Tribunnews.com (12/12/2019)

Penulis: Semuel S.Lusi (  Pengajar Filsafat dan Critical Thinking, Peneliti di Center for Critical Thinking Development (CCTD) UKSW)

Belajar Filsafat Ilmu dalam Kursus FIlsafat

Senin, 21 Januari 2020 pukul 16.00 wib hingga 20.30 wib CCTD UKSW mengadakan kursus filsafat di ruang Probowinoto gedung G UKSW. Topik Filsafat ilmu merupakan topik ke tiga dalam enam rangkaian diskusi filsaat. Sebelumnya para peserta kursus telah mempelajari Sejarah Filsafat dan FIlsafat Ketuhanan.

Pemateri utama dalam topik filsafat ilmu adalah Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, yang merupakan pengajar di STF Driyakara Jakarta. Pemateri menyajikan filsafat ilmu sebagai episteme yang terus berkembang dan menyentuh banyak wilayah realitas. Mulai dari penyingkapan kebenaran pengetahuan lewat falsifikasi, verifikasi, hingga rasionalime, kristisisme dan masuk ke fenomenologi, positivisme serta berakhir di idealisme. Perkembangan penyingkapan kebenaran tersebut disebabkan karena keterbatasan manusia dalam memahami realitas. Ilmu tidak hanya disingkapi menggunakan pendekatan ilmu alam, namun juga upaya fisio-sosial yang dikembangkan oleh Comte untuk membentuk hukum sosial, yang berguna untuk meramal sebuah struktur pengetahuan di masa akan datang.

Pada masa renaisans, pengetahuan berkembang secara masif dari ilmu alam hingga menyentuh ranah humaniora. Fenomenologi Husserl membantu para ilmuwan untuk membentuk karakteristik episteme bagi kehidupan humaniora. Pemateri mengajak peserta untuk mendiskusikan metode dan perkembangan karakteristik ilmu dari masa filsafat ilmu alam hingga masa humaniora secara sederhana dan menarik.

Pada akhir sessi, pemateri membahas tentang keberadaan post-truth dan neo-sofisme. Keberadaan kedua hal ini dapat menyebabkan kebenaran menjadi relatif dan subjektif. Untuk itu perlu pemahaman tentang metode pengetahuan yang tepat, sehingga manusia tidak dimanipulasi oleh manipulator kebenaran seperti pengikut post-truth dan neo-sofisme.

Kursus ini diikuti oleh sekitar 40-an dosen dan mahasiswa pasca sarjana dari berbagai disiplin ilmu di UKSW. Peserta sangat menikmati materi yang disajikan dan selalu terlibat dalam diskusi spontan saat materi diberikan.

Survei: Kesadaran Kritis 83% sebagai Modal Transformasi Kelembagaan

Survei dilakukan terhadap Dosen peserta dikusi filsafat taman, “Pendidikan yang Membebaskan ala Paulo Freire,” 17 Januari 2020. Survei diikuti oleh 31 peserta  terdiri dari 23 dosen dan 8 mahasiswa (S1, S2 dan S3).   Hasil survei menunjukkan bahwa 83% responden telah berada di level Kesadaran Kritis. Lainnya tersebar dengan prosentase yang sangat kecil, yaitu Kesadaran Intransitif 9%,  Kesadaran Magis 4% dan Kesadaran Fanatik 4%.   Survei ini tidak dimaksudkan mengevaluasi kondisi “pendidikan yang menindas” seperti kritik Freire, melainkan dimodifikasi untuk melihat potensi transformasi kelembagaan di UKSW. 

  • Kesadaran Kritis. 83% yang berada pada level kesadaran kritis merupakan modal besar untuk memulia terobosan. Mereka yang berada pada level ini memiliki  ciri antara lain menyadari adanya masalah yang sedang dihadapi. Mereka dengan sadar memilih fokus pada upaya mencari solusi dan secara proaktif (dengan inisiatif sendiri) melibatkan diri membuat terobosan atau sekurangnya memiliki intensi membuka ruang dialog untuk menginisiasi perubahan. Dalam bahasanya Paulo Freire, mereka aktif mencari solusi untuk keluar dari masalah atau terlepas dari ‘rantai penindasan.’ Dengan kata lain, orientasi dari kelompok ini adalah  MEMUTUS RANTAI PENINDASAN MENUJU PEMBEBASAN. Oleh Freire mereka disebut sebagai “transformers of that world.
  •  “Kesadaran” Intransitive (pra kesadaran) sebesar 9%.  Ini level pra sadar, dimana orang belum memiliki kesadaran akan situasi organisasi. Mereka hanya fokus pada hal-hal yang bersifat materi seperti gaji, tunjangan dan insentif lainnya yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan material. Orang-orang pada level kesadaran ini belum bisa diajak terlibat dalam upaya mentransformasi organisasi, namun bisa dicerahkan atau disadarkan akan kondisi organisasi.
  • Kesadaran Magis 4%. Pada level kesadaran ini orang bersikap pasrah.  “Memang nasib saya sudah begini, sudah takdir tuhan.”  Freire menyebutnya sebagai mitos inferioritas alamiah, yang berciri deterministik dan fatalistik. Orang sadar akan keadaan sebenarnya, namun tidak tahu apa yang perlu dilakukan. Tipe ini akan mudah dimanfaatkan oleh kaum penindas yang beorientasi melestarikan ‘penindasan’ demi kekuasaan. Merupakan kesadaran level terbawah. Orientasinya: PASRAH PADA KEADAAN.
  • Kesadaran Fanatik 4%.   Kelompok ini mengerti ada masalah, ada sistem yang tidak beres, namun alih-alih mencari solusi justru ia mencari penindas baru untuk mengganti penguasa  agar balik menindas. Yang terjadi hanyalah mengganti penindas, sementara struktur dan sistem penindasan tetap lestari.  Kesadaran di level ini sangat berbahaya, karenanya Freire menyebutnya dengan “destructive fanaticism”  atau  “a sensation of total collapse of their world.”  Orientasi: MERAWAT PENINDASAN.

Kesimpulan: survei ini tidak representatif karena hanya dilakukan di sebuah kelas diskusi.  Namun, setidaknya dapat memberi gambaran, bahwa UKSW punya modal dan potensi untuk melakukan transformasi kelembagaan.  Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat dan signifikan survei  perlu dikembangkan ke berbagai unit (fakultas/progdi dan unit-unit lainnya). 

Pendidikan yang memerdekakan ala Bahruddin

Berpikir kritis harus dimulai dari merdeka dalam belajar. Banyak anak-anak disekitar kita mengalami keterjajahan dalam belajar. Bahkan hingga kaus kaki pun dibuat sedemikian rupa agar seragam, menurut Bahruddin (penggagas komunitas belajar Qaryah Tayyibah dan assesor BAN PAUD/NNF).

Anak-anak tidak akan muncul nalar kreatif dan inovatifnya, apabila terus menerapkan pola pendidikan gaya “bank,” seperti yang hingga saat ini diterapkan dibanyak sekolah-sekolah formal. Pendidikan gaya “bank” akan membuat anak-anak terus menabung pengetahuan yang ditransfer dari guru, dan pada akhirnya mereka hanya akan mencairkan pengetahuan tersebut saat Ujian Nasional. Realitasnya dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak menggunakan pengetahuan yang didapatkan dari sekolah. Dengan demikian gaya “bank” tidak menjawab kebutuhan masyarakat, namun membebani anak-anak dengan standar yang terlampau tinggi.

Bahrudin saat menyampaikan materinya di Forum Diskusi Filsafat UKSW pada tanggal 17 Januari 2020 pukul 14.00-18.00, dengan santai mengatakan bahwa untuk mendidik anak menjadi pintar tidak perlu guru yang punya banyak pengetahuan. Namun lebih butuh guru yang siap ngayomin anak tersebut. Guru harus menjadi teman anak diskusi, dan bermain, sehingga kreatifitas anak muncul.

Dalam diskusi yang digagas oleh Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis (P3K) dan Pusat Pengajaran & Pembelajaran Inovatif (P3I), dan bertempat di Gedung Administrasi Pusat (GAP) UKSW, Bahruddin mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang membebaskan membutuhkan kemampuan investigasi realitas disekitar lingkungan anak. Dengan melakukan investigasi realitas, maka pembelajaran akan lebih menyenangkan dan mengoptimalkan kinerja otak sang anak.

DIskusi yang dihadiri sekitar 30-an peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa pasca sarjana ini, diakhiri dengan sessi tanya jawab yang memunculkan banyak ide untuk menerapkan pendidikan yang memerdekakan disekitar kita. Bahruddin telah berhasil dengan komunitas belajar Qaryah Tayyibah untuk menjadi sumber inspirasi pendidikan yang memerdekakan di Indonesia. Sudah saatnya nalar kritis bebas dengan pola pendidikan yang membebaskan.

Post-truth dan Peran Intelektual di Pilkada Serentak 2020

Ketika Ralph Keyes mendeklarasikan hadirnya era post-truth tahun 2004, para ilmuwan sinis dan mengabaikannya. Baru, setelah Trump memenangi pilpres AS tahun 2016, mereka terbelalak dan menyadari sebuah ketidakberesan. Bagaimana dengan Indonesia, terutama menyongsong tahun Pilkada serentak 2020?

Kathleen Higgins,  dosen filsafat dan penulis Nietzsche dari fakultas filsafat University of Texas menulis di  scientificamerican.com  dengan lead, “If politicians can lie without condemnation, what are scientists to do?”

Higgins antara lain menunjuk ketidakmarahan kaum intelektual (akademisi) melihat seliweran berita-berita bohong dan fakta-fakta palsu di panggung kampanye pilpres sebagai bukti pengakuan atas kecermatan ‘penglihatan’ Ralph Keyes. Apakah mereka telah pasrah dan terpaksa ikut merayakan deklarasi Keyes? Apakah ini pertanda ‘matinya’ ontologi, dan dengan sendirinya epistemologi? Bukankah itu berarti terkuburnya  filsafat, teologi, dan tentu saja, sains?

Sebagai pakar Nietzsche tentu saja Higgins terganggu. Bukan semata-mata karena statusnya sebagai filsuf dan akademisi, melainkan juga karena para penganut relativisme kebenaran dan relativisme moral itu merujuk filsafat Nietzsche sebagai induk semang aliran berpikirnya.  Mereka mengabaikan kenyataan bahwa Nietzsche sangat menganjurkan kejujuran hati nurani. Pun, betapa sang penganjur nihilisme itu secara ironis mengorientasikan manusia ideal übermans, makhluk soliter kepada bintang pemandu, sebuah bentuk pegangan juga? Artinya, nihilisme sesungguhnya tidaklah nihil absolut!

Di Indonesia pun para ilmuan atau akademisi nampak tidak cukup terganggu dengan fenomena post-truth politics (politik pasca kebenaran). Apakah dianggap banal? Memang sudah masa-nya era post-truth?  Seperti telah terjadi sejak Pilkada DKI 2017 hingga Pilpres 2019, akankah terjadi juga di Pilkada serentak 2020?

Post-truth  di Pentas Politik Indonesia

Post-truth politics atau politik paska kebenaran (PPK) sudah menjadi wabah baru di panggung-panggung politik dunia. Pilar-pilar kebenaran, fakta dan data ditenggelamkan oleh gelombang emosi yang terampil diulik dan diracik oleh para politisi paska kebenaran. Ubar kebencian kepada lawan politik dan teror ketakutan dijadikan perekat menyatukan emosi massa. Tidak penting apa yang dikatakan ditopang data valid atau tidak, lebih penting memiliki daya provokasi  agar dikapitalisasi menjadi arus dukungan. Pragmatisme menjadi panduan tindak, dimana  kebenaran direduksi sebagai sekadar “apa yang berguna bagi kepentingan kelompok dalam memenangkan kontestasi.” Daya pungkas dari racikan racun PPK adalah pada casing, yang  disamarkan dengan bungkus simbol suci agama, lalu menggunakan tangan dan mulut oknum elit ulama untuk menarik-lepaskan busur panah post-truth  menghujam  dan menyasar mangsa.

PPK sesungguhnya sudah lama hadir di panggung politik Indonesia. Namun, umum diakui mulai marak di Pilkada DKI 2016,  ketika paslon Ahok-Djarot berhadapan dengan Anies-Sandi.  Menurut hasil penelitian yang dirilis sejumlah lembaga, kedua kubu sama-sama menggunakan strategi PPK, meskipun salahsatunya terlihat lebih gencar, massif dan sistematis. 

Intensitas  PPK di pemilu pilpres 2019 nampak lebih terencana.  Jauh sebelum pelaksanaannya, wacana kecurangan dan ketidaknetralan penyelenggara Pemilu, termasuk aparat, sudah dihembus-hembuskan. Terkesan sebagai sebuah pengkondisian, yang lalu mengafirmasi dugaan ‘terencana.’ Selama masa kampanye meningkat ke wacana people  power,  diperkuat berbagai kreasi kampanye masif yang berusaha menutupi keberhasilan pemerintah sambil memagnifikasi kegagalannya. Berbagai angle serangan ke kubu petahana dan institusi penyelenggara pemilu tak henti-henti dimuntahkan. Respons pemerintah untuk menertibkan kecenderungan anarkhi dan semburan kebencian dengan licik dibalikkan sebagai tindakan otoriter anti demokrasi. 

Tahun 2020 adalah tahun politik pilkada serentak.  Setidaknya 270 kepala daerah, masing-masing  9 Gubernur,  224 Bupati dan 37 Walikota  akan diperebutkan.  Akankah pemungkas  PPK masih dijadikan senjata andalan? Harapan kita tentu saja, tidak!  Peran kaum intelektual diperlukan untuk menyudahi permainan berbahaya ini.  Toch, telah terbukti lebih banyak mengalami kegagalan.

Sebagai patologi, post-truth hanyalah bentuk ketergelinciran kaum terdidik yang sedang berburu kuasa lewat jalan pintas dengan melanggar rambu-rambu. Mereka terlena mengejar hasrat kuasa, namun tidak sudi berinvenstasi pada kerja-kerja ilmiah guna mendisain program-program unggulan sebagai produk jualan ke massa pemilih. Mereka juga cenderung miskin protofolio dan rekam jejak prestasi di bidang pembangunan masyarakat, pembangunan kota, atau kinerja yang relevan dengan posisi politik yang ingin diduduki. Kasus Jokowi yang dari Walikota Solo sukses mejadi gubernur DKI, lalu memenangkan Pilpres 2014 dilanjutkan di 2019 merupakan contoh sebuah sukses “investasi intelektual.”  Pun, protofolio kesuksesan Nurdin Abdullah memimpin Kabupaten Bentaeng memberi alasan bagi masyarakat Sulawesi Selatan memenangkannya di pilgub Sulawesi Selatan. Ridwan Kamil memenangi pilgub Jawa Barat karena kinerjanya membangun kota Bandung.  Mereka tidak butuh “dopingan vitamin hoax” lantaran sudah mengakumulasi sumberdaya relevan lewat rekam jejak kinerja, yang berfungsi sebagai “tiket VIP” untuk memimpin.

Intinya, trik-trik post-truth digunakan oleh kandidat yang miskin protofolio kesuksesan.  Mereka menghasrati posisi publik diluar jalur karier prestasi. Untuk mengkompensasi ketiadaan tiket kepemimpinan mereka nekad menggunakan ‘tiket palsu’ dari para broker seperti pemoles citra, pemilik (pebisnis) massa, dan perekayasa narasi dan data rekaan. Mengandalkan kekuatan finansial mereka mencipta realitas-realitas palsu, baik untuk menambal citra jomblang dan memolesnya dengan kosmetik yang lebih tebal, sekaligus mengkloning virus hoax lainnya untuk menyerang dan menghancurkan citra baik lawan politik.  Lebih jauh, aturan-aturan main formal, kinerja penyelenggara, fondasi nilai bersama seperti konstitusi dan hukum, nilai moral dan standar kebenaran digoyang untuk direlatifkan, kemudian dengan berbagai daya-upaya  menukarnya dengan standar-standar palsu yang diusung.

Tanggungjawab Ilmuwan

Pasca Berxit dan kemenangan Trump, yang diamini dikontribusi permainan hoax dan tebaran kebencian, para ilmuan, terutama psikolog human development dan  para filsuf memberi perhatian lebih pada riset sebuah konsep kebijakan intelektual yaitu kerendah-hatian (intellectual humility).  Minat ilmiah ini dibangun diatas asumsi bahwa para ‘pemain politik’ juga merupakan kaum intelek, atau setidaknya didukung oleh kaum intelek di struktur elit pengambil keputusan.  Selain itu, tentu saja menggugah kepekaan kaum intelektual / akademisi untuk menjawab tantangan PPK, yang sebenarnya secara kebablasan diberi panggung dengan sebutan era dan world  (post-truth era dan post-truth world).

Relativasi kebenaran dan moral memiliki ancaman serius pada sains, filsafat dan agama. Pencarian sains (dan filsafat) untuk pengetahuan tentang realitas mengandaikan pentingnya kebenaran, baik sebagai tujuan itu sendiri maupun sebagai cara menyelesaikan masalah. Apa jadinya bila kebenaran dipinggirkan? Demikian pula, aksiologi sains mengandaikan terbentuknya sikap rendah hati, yaitu kesadaran bahwa meski terdidik, bahkan, misalnya, tergolong super cerdas, masih lebih banyak hal yang belum sepenuhnya diketahui.

Para ilmuan seharusnya tidak hanya sibuk dibalik tumpukan buku-buku, bersembunyi di kenyamanan ruang-ruang kelas ber-AC dan laboratorium, sementara perkembangan aktual di masyarakat meminggirkan kebenaran dan moralitas dari kebutuhan.  Implikasinya akan serius karena pada akhirnya standar baru yang dijadikan pegangan oleh masyarakat adalah jenis ‘kebenaran’ dari para politisi penganut pasca kebenaran.  Terutama, para ilmuan sosial dan humaniora sebaiknya lebih aktif membantu masyarakat memahami fenomena post-truth agar menyadari sedang ngetrend-nya sebuah ketidak-normalan. Dengan demikian masyarakat disadarkan dari bius post-truth yang sengat kerap disamarkan dalam kapsul agama, lalu menaruh kepercayaan pada (metode-metode) sains.

Berbeda dengan ilmuan Indonesia yang nampak adem, American scientist secara proaktif bergerak dalam upaya ‘merebut kembali’ kepercayaan publik terhadap sains.  Hasil-hasil riset diperjuangkan untuk dipertimbangkan dalam kebijakan-kebijakan publik. Misalnya, tentang pemanasan global, perubahan iklim, kesehatan, dan sebagainya yang merupakan isu-isu sentral politik yang ‘seksi’ dimanipulasi dan dijadikan jualan dalam kampanye politik.    

Saya yakin juga, bahwa mereka yang terlibat dalam kubu-kubuan politik di Pilpres 2019, juga kelak di Pilkada 2020 merupakan kaum terdidik.  Bila mereka berpikir pilihan ‘ideologi  PPK” hanyalah strategi praktis untuk memenangkan kontestasi, dan akan mengembalikan keadaan setelah berkuasa, itu spekulasi berbahaya. Kenikmatan memenangi konstetasi dengan strategi post-truth akan membuat Anda semakin mengandalkannya sehingga menjadikan ‘gaya kepemimpinan’ dalam mengelola kekuasaan. Selanjutnya dilestarikan, dimodifikasi dan terus diinovasi demi mempertahankan kekuasaan serta memperluasnya. 

Diamnya kaum intelek bukan sekadar bunuh diri, melainkan juga membunuh peradaban. Implikasi dari ‘kemenangan post-truth’ akan sangat serius. Bila ditangan para manipulator agama, manusia akan terlempar kembali ke abad pertengahan, dimana sekelompok elit agama saja yang menjadi penentu standar kebenaran dan moralitas. Kebenaran tidak terletak pada obyeknya, melainkan pada titah pemegang kuasa agama, yang berperan melampaui kebenaran. Maka, secara umum kemenangan PPK akan membawa manusia membangun peradaban di atas konstruksi informasi palsu yang lemah dan menyesatkan. Lalu, peradaban macam apa yang akan kita capai bila politik dibangun diatas dasar kepalsuan?

Semoga di tahun politik pilkada serentak 2020 ini para intelek dan kaum terpelajar berperan lebih aktif menghadirkan metode-metode sains dalam Pilkada, mulai dari proses perekrutan kandidat, disain isu kampanye (analalisis kebutuhan),  rancangan metode dan strategi pemenangan hingga publikasi hasil. Medsos hendaknya dipenuhi berbagai diskusi dan analisis wacana menggunakan prinsip-prinsip sains, yang secara langsung maupun tak langsung ikut mengedukasi melalui literasi media sosial. Dengan demikian, kiranya masyarakat dapat terinformasi secara tepat serta bersikap kritis terhadap isu-isu kampanye maupun rekam jejak para  kandidat. Demokrasi substansif hanya bisa tersaji lewat kerja-kerja sains, dan bukan manipulasi fakta yang menjadi sumber polusi nalar!

Semuel S. Lusi,  peneliti pada Center for Critical Thinking Development-UKSW Salatiga, dan co-founder  Indonesia Menalar

Dialektika filsafat ketuhanan di UKSW

CCTD UKSW kembali melaksanakan kursus filsafat dengan topik “Filsafat Ketuhanan”. Kursus dilakukan pada hari senin (2/12/2019), bertempat di ruang Probowinoto gedung G UKSW, dari pukul 16.00 hingga 20.00 wib. Pemaparan topik ini, dibagi dalam dua sessi, yakni sessi pertama tentang dialektika filsafat ketuhanan dengan atheis, agnostik dan pemikiran lainnya, yang menyerang eksistensi Tuhan. Dan sessi kedua, tentang hakekat filsafat ketuhanan.

Prof. Franz Magnis-Suseno sebagai pemateri, menyajkan konten filsafat ketuhanan secara menarik. Ia memaparkan penolakan eksistensi Tuhan lewat beberapa pemikiran masa modern, yakni pemikiran filsuf Feurbach, bahwa Tuhan merupakan proyeksi diri manusia. Juga Sigmund Freud seorang psikoanalis yang menyatakan bahwa agama merupakan suatu bentuk ilusi. Serta filsuf Jean-Paul Sartre, yang mengungkapkan bahwa dengan adanya Allah, maka manusia tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Dan bahkan hingga munculnya Agnostisisme pada abad ke-20, yang menyatakan bahwa Allah tidak dapat diketahui. Magnis mengungkapkan bahwa, pemikiran-pemikiran tersebut tidak mampu menjelaskan tentang Tuhan, dan mengakhirinya dengan ketiadaan Tuhan. Dan hal tersebut merupakan kekeliruan dalam memahami filsafat ketuhanan. Karena menurut Magnis, dalam berbicara tentang Tuhan tidak bisa menggunakan bahasa yang univok, namun menggunakan bahasa penyangkalan. Konsep “hati nurani” merupakan bentuk memahami Tuhan dalam diri manusia. Karena hati nurani merupakan obyek yang sudah ada sejak manusia lahir dan terus berkembang mengawal penalaran manusia tentang sesuatu. Dengan demikian, Tuhan bukanlah materi yang sama dengan obyek filsafat lainnya.

Selanjutnya Magnis mengungkapkan bahwa dalam filsafat Ketuhan, berbicara tentang imanensi dan transedensi, kehendak bebas manusia, dan penderitaan. Dengan mendialektikakan ketiga hal tersebut, maka akan terbentuk diskursus tentang Tuhan.

Dengan pemaparan demikian, maka menimbulkan banyak diskusi. Peserta kursus dan Magnis mendiskusikan berbagai hal tentang ketuhanan. Dalam diskusi tersebut, Magnis membatasi bahwa Tuhan yang dipahami dalam kursus ini, menggunakan metode filsafat. Untuk itu terbuka untuk didialektikakan. Hal ini berbeda dengan Tuhan spiritual dalam filsafat timur. Selain itu, konsep “hati nurani” sebagai bagian dari etika juga diposisikan secara tepat dalam memahami Tuhan.

Magnis dan peserta mampu membuat empat jam kursus filsafat tidak membosankan. Dialektika yang dibangun, serta kekayaan sudut pandang menambah gairah ruang diskusi. Diskusi dalam kursus Filsafat berakhir pada pukul 20.00 wib. Dan diakhiri dengan foto bersama kurang lebih 58 peserta kursus dengan Franz Magnis-Suseno.

Memahami Sejarah Filsafat di Probowinoto

Hari Senin (25/11/2019), Pusat Pengembangan Pemikiran Kritis (P3K) UKSW melaksanakan Kursus Filsafat di ruang Probowinoto UKSW. Kursus ini diikuti oleh sekitar 56 peserta, yang merupakan dosen-dosen dari berbagai fakultas di UKSW dan beberapa mahasiswa Pasca Sarjana UKSW.

Kursus Filsafat yang diselenggarakan oleh P3K UKSW (atau biasa disebut juga Center for Critical Thinking Development – CCTD), merupakan salah satu program kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan ruh filsafat dalam aktivitas akademik di kampus. Dengan mendatangkan pemateri dari STF Driyakara, maka diharapkan para peserta akan lebih memahami kedudukan filsafat dalam pohon ilmu, serta peserta mampu menerapkannya dalam kehidupan akademik.

Topik Sejarah Filsafat yang dibawakan oleh Dr. A. Setyo Wibowo, merupakan topik pertama diantara enam topik lainnya yang akan diberikan kepada peserta. Sebagai pemateri pertama, Dr. A. Setyo Wibowo mampu memaparkan sejarah panjang perkembangan filsafat, yang juga telah mempengaruhi perkembangan pemikiran manusia. Filsafat Pra Socratic, Platon, Aristoteles hingga Immanuel Kant, dijabarkan dengan memperhatikan detail konten filosofi, serta disajikan dengan metafora yang menarik. Keluwesan dan kelugasan digunakan oleh pemateri untuk menghipnotis peserta, dalam memahami sejarah filsafat barat. Hingga tanpa disadari waktu 4 jam durasi kursus dilewati oleh peserta dengan tidak membosankan.

Kegiatan kursus berlangsung dari pukul 16.00 wib hingga 20.00 wib. Dua jam digunakan oleh pemateri untuk menyampaikan seluruh materi. Selanjutnya para peserta dan pemateri melakukan break dan dijamu makan malam selama 30 menit. Dan setelah makan malam, kursus dilanjutkan dengan sessi tanya jawab hingga akhir.

Pada akhir kursus, beberapa peserta berpendapat bahwa kegiatan ini harus sering dilakukan. Agar filsafat yang terkesan “membosankan dan menakutkan” oleh orang-orang yang tidak memahami filsafat, dapat kembali ke rumahnya (universitas) dan dapat mewarnai dialektika ilmu pengetahuan.

Keterampilan Critical Reading Mahasiswa FEB UKSW Angkatan 2017

“Anytime you read, you are reading the product of an author’s reasoning. You can use your understanding of the elements of reasoning, therefore, to bring your reading to a higher level.[1]” 

Kesalahan umum dalam membaca adalah tanpa metode standar, dan karenanya kerapkali sambil membaca teks si pembaca (reader) sibuk sendiri dengan pikiran dan dinamika didalamnya. Akibatnya gagal memahami secara utuh konten atau logic of content dari penulis (tulisan yang dibacanya). Padahal, tujuan utama membaca adalah memahami pikiran penulis, yang oleh  Richard Paul dibahasakan sebagai “masuk ke dalam pikiran penulis.”  Konsep kuncinya adalah critical reading, yaitu membaca secara kritis dengan menggunakan ‘tools standar’ dalam penalaran kritis sehingga membantu memahami bacaan atau produk penalaran secara efektif.

Model Critical Thinking Paulian dari Richard Paul dan Linda Elder memiliki keunggulan dalam hal menggunakan standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran.  Salah satu diantara standar dimaksud adalah elements of reasoning (EoR)

EoR merupakan ‘rancang bangun’ dari output penalaran, baik berupa tulisan maupun lisan (orasi). Karenanya, EoR dapat digunakan sebagai ‘indikator asesmen’ untuk menguji kesahihan sebuah produk penalaran. Empat dimensi penalaran yang menjadi obyek penerapan EoR adalah critical listening (hearing),critical reading, critical writing, dan  ciritical speaking.  

Bagi mahasiswa tahun pertama, kemampuan membaca atau critical reading (disamping mendengar) merupakan syarat dasar yang harus dimiliki atau keterampilan dasar yang perlu dikuasi sebelum menulis dan berbicara. Keterampilan memahami dan menerapkan EoR akan sangat membantu  mahasiswa untuk membaca teks dan memahami secara efektif dan efisien.

Penelitian kelas ini bertujuan mengetahui kemampuan critical reading Mahasiswa FEB-UKSW yang mengambil mata kuliah Critical Thinking tahun ajaran 2017/2018.  Disamping itu, penelitian ini hendak mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam critical reading berkaitan dengan identifikasi elemen penalaran. Pertanyaan lain yang ingin dijawab adalah apakah bahan bacaan berbahasa asing ikut memengaruhi kemampuan critical reading mahasiswa?

Konsep dan Teori

Dua konsep yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

  1. Critical Thinking dan Paulian Model.

Critical thinking memiliki banyak definisi.  Yang digunakan  dalam penelitian ini adalah yang diajukan oleh Richard Paul dan Linda Elder.

Critical Thinking sebagaimana yang dikembangkan oleh Richard Paul dan Linda Elder atau dikenal dengan Model Paulian, menyediakan tools sebagai standar untuk mengevaluasi produk-produk penalaran dan tampilan critical thinkers, apakah memenuhi kriteria sebagai ‘strong critical thinker’ (SCT) atau ‘weak crtical thinker” (WCT). Tujuan pembelajaran CT adalah berkembang dari WCT ke SCT.  Tiga komponen yang ditetapkan sebagai standar baku dari CT Paulian adalah Eelements of Thought atau Elements of Reasoning (EOS), Intelektual Standar atau desebut juga Universal Intelektual Standard (UIS), dan Intellectaul Traits (IT).

Lengkapnya, Model CT Paulian dapat dilihat dalam Diagram berikut:

Sumber: http://www.criticalthinking.org/pages/applied-disciplines-a-critical-thinking-model

Ketiga komponen strandar di atas berfungsi secara terpadu dan terintegrasi, dan tidak bisa dilepaspisahkan satu dari yang lainnya. Kerangka dasar atau rancang bangunnya adalah EOR (the Eelements), sementara kedalamannya atau ukuran kekuatan kerangka bangunan penalarannya adalah UIS (the Standards), yang diorienteasikan untuk menghasilkan intelektual yang bijak (IT).  Artinya, IT merupakan output dari penerapan EOR yang menggunakan Standards. Seorang strong critical thinkers memiliki nilai-nilai atau kebajikan sebagaimana dirumuskan sebagai IT.   

Sebagai permulaan penelitian ini memfokuskan pada ‘kerangka bangunan CT,’ yaitu EOR.  Harapannya, apabila kerangkanya sudah terbangun akan mudah melanjutkan ke Standar-nya untuk menciptakan ‘bangunan penalaran kritis yang kuat’ pada mahasiswa.

Elements of Reasoning meliputi 8 unsur, yaitu Purpose, Questions, Point of View, Information, Inferences, Concepts, Implication, dan Assumption. Mempertimbangkan kerumitannya bagi maka penelitian ini memodifikasi kedelapan element tersebut yaitu dengan mengabaikan elemen Asumsi dan Point of View serta menggantinya dengan Tema atau Judul Bacaan, dan Tanggapan sebagai pembaca setelah membaca naskah atau teks.

2. Critical Reading

Critical Reading adalah salah satu keterampilan dari empat produk penalaran. Ketiga produk lainnya adalah Critical Listening, Critical Writing dan Critical Speaking. Keempatnya menggambarkan kemampuan atau keterampilan di domain masing-masing dengan ketiga komponen standar baku CT Paulian. Dengan kata lain, Critical Reading adalah keterampilan membaca teks dengan menggunakan standar berpikir kritis, yaitu EOR dan UIS.  Untuk penelitian ini, sebagaiamana telah dijelaskan di atas, akan focus pada EOR.  Karenanya, penelitian ini mendefiniskan Critical Reading sebagai: “kemampuan membaca atau mengases teks dengan menggunakan elemen-elemen penalaran dari CT Paulian.”


PROSES & PENGORGANISASIAN PENELITIAN

Penelitian melibatkan 176 mahasiswa FEB Angkatan 2017. Hanya dengan 1 kali pertemuan untuk menjelaskan tentang EoR, mahasiwa diberikan bahan bacaan untuk latihan mengases. Setidaknya 7 elemen  pokok dianjurkan untuk diidentifikasi, dengan maksud  mengetahui seberapa tepat mahasiswa melakukan asesmen atau membaca dan memahami bahan bacaan secara kritis berdasarkan elemen-elemen penalaran yang dipelajari.

Mahasiswa dalam setiap kelas dibagi menjadi 10 kelompok. Terdapat 3 kelas dengan jumlah mahasiswa bervariasi antara 50-60 orang. Setiap kelompok terdiri dari antara 4-8 orang, masing-masing diberikan sebuah tema bacaan yang diambil dari 3 sumber, yaitu:

  1. Karya Simon Petrus Lili Tjahjadi berjudul PETUALANGAN INTELEKTUAL: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern.
  2. Karya Richard Paul & Linda Elder berjudul Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Professional and Personal Life
  3. Richard Paul’s Ontology

Adapun pembagian bahan-bahan (materi) Critical Reading untuk setiap kelompok sebagai berikut:

HASIL PENELITIAN & DISKUSI

Kelompok diminta mendiskusikan tema yang diberikan, namun untuk menyelesaikan instruksi dikerjakan secara individu. Pembentukan kelompok dimaksudkan supaya terjadi diskusi dan saling sharing pemahaman, mengingat bahan ‘berbau’ filsafat kerap dianggap sulit, lagipula kebanyakan bahan sumber tersedia dalam bahasa asing (Inggris).  

Menyadari bahwa ‘pembekalan materi’ elemen-elemen penalaran tidak memadai, karena hanya diberikan dalam 1 kali pertemuan, itu pun bukan praktek melainkan ceramah dan diskusi, maka tidak semua elemen dalam CT Model Paulian diberikan. Adapun Richard Paul menganjurkan delapan elemen penalaran, yaitu Purpose (Tujuan), Key Question, Inference (Kesimpulan dan Solusi), Information, Key Concepts, Assumptions, Implications & Consequences, dan Point of View. Elemen-elelemen yang dianggap sulit diidentifikasi, seperti Assumption, dan Point of View tidak dimasukkan dalam instruksi. Selanjutnya, dimasukkan dua komponen lain yang dianggap lebih mudah, yaitu:

  1. Tema. Pada bagian ini mahasiswa diminta memberi judul pada bahan yang dibacanya itu. Harapannya, mereka memberi judul setelah membaca dan memahami konten.  Mahasiswa yang memahami bahan bacaan dengan baik tentu akan memberi tema atau judul yang sesuai, sebaliknya yang tidak memahami memberi judul yang tidak sesuai.
  • Tanggapan. Komponen ini memang bukan bagian dari elemen penalaran, namun peneliti berpendapat bahwa, apabila mahasiswa sudah mampu ‘membedah sebuah bacaan’ berdasarkan elemen-elemen penalaran, semestinya dapat memberi tanggapan atas ‘karya’ tersebut, baik secara keseluruhan (umum) maupun bagian tertentu, misalnya terkait asumsinya, purposenya, konsep kunci-nya, dan sejenisnya. Tanggapan mahasiswa akan menggambarkan tingkat pemahaman, dan dalam  tingkat tertentu daya imajinasinya untuk ‘memanfaatkan’ karya tersebut bagi pengembangan pembelajaran atau pengalaman belajarnya.

Tabel Hasil Tes Identifikasi Elemen-Elemen Penalaran

Mahaiswa FEB – MK Critical Thinking  Tahun 2018

Hasil kerja mahasiswa seperti nampak di Tabel di atas mengindikasikan beberapa hal penting.

Pertama;  Sebagian besar mahasiswa masih sangat lemah pada mengidentifikasi elemen INFORMASI (hanya 0,22% yang menjawab dengan benar). Dalam CT Paulian termasuk dalam kategori elemen ini adalah pendapat ahli, data/fakta, grafik, diagram, atau pengalaman, yang digunakan untuk mendukung elemen Purpose dan menjawab Question.  Di sini nampaknya para mahasiswa masih terjebak dalam pengertian informasi secara sempit, yaitu ‘isi berita’ dari bacaan. Bahkan terdapat empat kelompok, yaitu K5, K7, K9 dan K10 dimana tidak ada seorang pun yang bisa  mengidentifikasi elemen ini. Skor tertinggi adalah kelompok 1 (K1) (N=17), yaitu 0,76 (13 dari 17 responden) yang menjawab dengan tepat.  Ini bisa jadi terkait dengan tema yang dibahas kelompok 1, yaitu “Berpikir Kritis bersama para Filsuf Pra-Socratic” dimana yang dibahas adalah gagasan tokoh-tokoh filsafat alam hingga kaum Sofis dan Socrates.  Jadi, mudah menyebut nama tokoh-tokoh dengan karya mereka, yang merupakan Informasi utama. Tetapi, sebaliknya pada identifikasi KONSEP KUNCI, kelompok ini tidak ada satu pun yang bisa melakukannya. Padahal sangat banyak konsep kunci di bacaan tersebut, antar alain Mitos, Prinsip Dasar (Arche), Realitas, Eros, Elemen alam, Pluralisme, Dualisme, Spermata, Pantha rei, dsb.

Kedua; skor tertinggi adalah identifikasi (merumuskan) TEMA (0,6). Tetapi, sesungguhnya bukanlah kabar gembira.  Sebagian besar dari mahasiswa hanya menulis ulang judul materi.  Disebabkan instruksinya yang tidak tegas (hanya meminta menuliskan tema, padahal yang dimaksud merumuskannya berdasarkan pemahaman setelah membaca konten), akhirnya dibenarkan (karena juga terkait Nilai TAS Mahasiswa). Meski demikian, 32% dari mereka dapat merumuskan tema dengan formulasi kalimat lain sebagaimana diharapkan.

Skor tertinggi kedua adalah identifikasi elemen KONSEP KUNCI (55%), meski terdapat 2 kelompok (1 dan 5) yang gagal mengidentifikasinya. Nampaknya, hal ini terkait dengan ‘sifat’ atau ‘tingkat kesulitan’ bahan bacaan. Di sejumlah bahan bacaan konsep kunci eksplesit dan tunggal sehingga mudah diidentifikasi. Misalnya, pada bahan bacaan “Socratic Questioning” yang menjadi konsep kunci hanya Socratic questioning dan Socratic discussion. Atau pada bahan bacaan “Parts of Thinking” dengan sendirinya yang dibahas sebagai konsep kunci adalah  delapan elemen penalaran sehingga mudah dikenali.

Ketiga;  pada komponen memberikan TANGGAPAN, awalnya diperkirakan akan sulit. Ternyata 42 dari 176  (24%) mahasiswa bisa memberi tanggapan yang tepat (atau setidaknya mendekati/berkualitas) sesuai harapan.

Keempat; apakah bahan bacaan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki perbedaan? Tabel  dibawah menunjukkan nilai rata-rata dari kelompok materi berbahasa Indonesia (4 Kelompok) dan kelompok materi berbahasa Inggris (6 Kelompok) untuk diperbandingkan. 

Tabel Perbandingan Skor Rata-rata

Berdasarkan Kelompok Materi Berbahasa Indonesia dan Inggris

Berdasarkan Tabel  di atas, nampak identifikasi elemen-elemen penalaran tidak memperlihatkan adanya dominasi berdasarkan kelompok bahasa. Kelompok materi berbahasa Inggris mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi pada tiga elemen, yaitu identifikasi Tema, dan Tujuan (purpose), dan Konsep-konsep kunci (key consepts). Sementara untuk empat elemen lainnya kelompok materi berbahasa Indonesia mencatat nilai rata-rata yang lebih tinggi.  Artinya, tidak terdapat perbedaan yang berarti. Diduga, perbedaan lebih disebabkan oleh ‘kerumitan bahan bacaan’ dari segi penyajiannya.  Misalnya, pada materi-materi berbahasa Inggris semua elemen informasi disajikan dalam bentuk contoh, pengalaman, metafora, diagram, dan tabel-tabel latihan. Kemungkinan disebabkan masih terpenjara dalam pemahaman tentang informasi dalam pengertian sempit, yaitu sebagai ‘pesan bernilai dalam sebuah bacaan,’ mahasiswa belum peka mengidentifikasi informasi dalam cakupan pengertian critical thinking Paulian. Kemungkinan lainnya, sebagai pemula yang hanya dibekali dalam satu kali pertemuan, mahasiswa lebih fokus mencari teori-teori, pendapat ahli (lain), data dan sejenisnya, yang memang tidak tersaji dalam bahan-bahan bacaan Sumber 2 maupun Sumber 3 yang dirujuk. Artinya, pada bahan-bahan bacaan berbahasa Inggris  elemen informasi tersaji secara ‘tersamar,’ yang berarti tingkat kesulitannya tinggi. Sebaliknya, di Sumber 1 elemen informasi tersaji secara eksplesit lantaran membahas  tokoh-tokoh filsafat dengan gagasan-gagasan filosofisnya, juga teori maupun metafora yang digunakannya.

IDENTIFIKASI KESALAHAN UMUM

Berikut kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan mahasiswa ketika mengidentifikasi elemen-elemen penalaran dalam critical reading.

  1. Menjawab dengan menggunakan logika sendiri, terlepas dari konten. Ini  kemungkinan terjadi karena mahasiswa tidak membaca bahan yang menjadi acuan (bahan diskusi), atau membaca tetapi tidak memahami teks, atau membaca dan memahami tetapi tidak cukup teliti.
  • Jawaban tidak spesifik. Misalnya, bahan diskusi K7,  kesimpulan yang dibuat sendiri yaitu, “berpikir kritis sangat penting bagi mahasiswa.”

Disamping kesalahan-kesalahan umum diatas, teridentifikasi pula sejumlah kesalahan yang terjadi dalam mengidentifikasi masing-masing elemen sebagai berikut:

Elemen-1: Purpose

Kesalahan dalam mengidentifikasi elemen Purpose adalah:

  1. Merumuskan tujuanya belajar CT, misalnya sebagai kewajiban perkuliahan. Ini kesalahan yang dilakukan oleh setidaknya 4 ( dari 17) yang salah mengidentifkasi purpose.
  • Purpose juga diidentifikasi sebagai tujuan pembaca, yaitu misalnya untuk memahami atau untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
  • Ketika bahan diskusi yang membahas tokoh, misalnya Filsafat Kritis Immanuel Kant, purpose yang dirumuskan bukannya purpose tulisan (penulis), melainkan purpose Kant (dengan mereka-reka/tanpa rujukan).
  • Jawaban ngawur. Misalnya, bahan tentang The Parts of Thinking (K7), purposenya: agar membuka pikiran seseorang dalam menerima informasi verbal dan non verbal.

Elemen-2: Information

  1. Apa yang dianggapnya sebagai ‘pesan bernilai’ dari bahan yang dibaca, dan bukan konten yang dijadikan acuan penulis untuk mendukung atau menjawab purpose. Ini kesalahan karena memahami informasi dalam pengertian sempit.
  • Menjelaskan informasi yang digunakan oleh pembaca dalam menjawab pertanyaan / instruksi, yaitu dari buku sumber, internet, kuliah dosen, dan sejenisnya.

Elemen-3: Konsep Kunci

  1. Berdasarkan hasil kerja responden nampaknya masih sulit membedakan elemen Konsep  Kunci dengan elemen Kesimpulan. Misalnya bahan bacaan K5: “Menjadi Kritikus dari Pemikiran Sendiri,” seorang responden menyebutkan salahsatu  kata kunci yaitu  “dalam setiap hal yang kita lakukan perlu pemikiran kritis.”
  • Jawaban ngawur: Misalnya, bahan K6, Konsep Kunci yang dirumuskan: “Wawasan yang luas dan pengetahuan yang baik juga penting bagi penalaran atau proses berfikir.”

Elemen-4:  Kesimpulan

  1. Membuat kesimpulan sendiri, padahal yang seharusnya yang diidentifikasi adalah kesimpulan penulis (bahan acuan). Misalnya, bahan bacaan acuan ditulis oleh Richard Paul, maka elemen Kesimpulan yang harus diidentifikasi adalah kesimpulan dalam tulisan Richard Paul itu, dengan kata lain kesimpulan penulis (Richard Paul), bukan kesimpulan reader (pembaca).
  • Responden yang membuat kesimpulan sendiri pun tidak tepat, yaitu sama dengan membuat ringkasan atas bahan bacaan. Ini menunjukkan bahwa responden belum bisa membedakan antara Kesimpulan dan Ringkasan.

Kesimpulan yang dibuat bisa BENAR (sesuai dengan kesimpulan yang dibuat penulis), namun tidak selalu dibuat dengan mengacu bahan bacaan. Ada responden yang merumuskannya sendiri, meskipun formulasinya sangat berbeda namun esensinya cocok dengan kesimpulan penulis bahan bacaan (bahan acuan). Ini dapat berarti pembaca memahami konten sehingga dapat membuat kesimpulan dengan benar karena dituntun oleh alur logis.  Namun, idealnya harus dipahami bahwa kesimpulan dalam critical reading adalah kesimpulan penulis, bukan pembaca (meski pun benar).

  • Terdapat pula mahasiswa yang membuat kesimpulan yang terlalu umum. Misalnya, bahan bacaan tentang Plato, kesimpulan yang dibuat adalah “berpikir kritis itu bermanfaat bagi mahasiswa.”
  • Keisimpulan dalam CT Paulian seharusnya berkonsekuensi pada elemen implikasi. Artinya, implikasi merupakan runtun logis atau runtun efek dari elemen kesimpulan.  Kebanyakan responden merumuskan implikasi berdiri sendiri. Ada pula yang  salah mengidentifikasi kesimpulan, namum implikasi BENAR karena dibuat berdasarkan kesimpulan (yang salah itu).   Di sini, ukuran benar bukan dari sisi logic of content, melainkan karena prosedurnya benar, yaitu dipahami sebagai konsekuensi dari kesimpulan.

Elemen-5: Implikasi

  1. Impilikasi dibuat sama dengan kesimpulan. Artinya, elemen Implikasi belum bisa dibedakan dengan elemen Kesimpulan. Setidaknya 4 mahasiswa meng-copy paste apa yang sudah dibuat di Kesimpulan dan memindahkannya ke Implikasi.
  • Implikiasi dibuat berdiri sendiri, tidak terkait dengan kesimpulan penulis.
  • Ada pula yang salah membuat kesimpulan, namun nampak implikasi (kalau dikaitkan dengan kesimpulan penulis) yang dibuat benar. 

Elemen-6: Tanggapan

  1. Membuat tanggapan seperti membuat kesimpulan. Padahal, yang diharapkan adalah menanggapi secara keseluruhan atau sebagian bahan bacaan berdasarkan pemahaman setelah membaca.
  • Membuat tanggapan tepat, namun lebih teknis. Misalnya,  “penulis menggunakan konsep-konsep yang sulit dipahami, juga kurang memberikan contoh-contoh sehingga tidak memudahkan pemahaman.”

KESIMPULAN & IMPLIKASI

  1. Eksperimen ini menghasilkan kesimpulan bahwa kemampuan crtical reading mahasiswa masih rendah.  Hanya 11,9% (21 dari 176 responden) yang bisa mengerjakan semua instruksi sesuai standar. Artinya, kelompok ini menunjukkan kemampuan mengidentifikasi  elemen-elemen penalaran dengan tepat, dan ini menunjukkan bahwa ada dampak sebagai hasil pembelajaran (introduksi elemen-elemen penalaran). Disebut ‘hanya’ introduksi dikarenakan intensitasnya hanya 1 kali pertemuan, dan dilakukan dengan metode ceramah. Diduga, apabila digunakan metode simulasi atau latihan akan memberikan hasil yang lebih baik.
  • Bahasa tidak menjadi masalah dalam pembelajaran critical reading. Artinya, mahasiswa dapat mengerjakan instruksi dari bahan bacaan berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia. Sejumlah kesalahan sebagaimana teridentifikasi tidak disebabkan oleh bahasa, sehingga diduga dapat teratasi dengan latihan dan pembiasaan.
  • Sebagai implikasinya, perlu pengembangan keterampilan critical reading mahasiswa. Meskipun belum ada penelitian terkait dengan keterampilan di domain critical thinking lainya, hasil ini diduga dapat memberi gambaran kasar terkait keterampilan critical writing, critical listening, maupun critical speaking mahasiswa. Untuk meningkatkan keterampilan critical reading, dan domain critical thinking lainnya dianjurkan setidaknya dua cara. Pertama; untuk bahan materi-materi ‘standar’ seperti Elemen-elemen penalaran dan Standar Intelektual digunakan metode latihan dan bukan ceramah & diskusi. Latihan memungkinkan mahasiswa langsung praktek, kemudian hasil kerjanya dievaluasi, lalu diperbaiki, seterusnya hingga keterampilannya benar-benar terasah menjadi kebiasaan. Kedua; intensitas diperlukan. Makin intensif kuantitas pembelajaran akan menciptakan efek pembiasaan. Apabila diberlakukan untuk semua mata pelajaran (mata kuliah), yaitu critical reading, dan secara umum critical thinking sebagai instrumen sekaligus “metode belajar/mengajar,’ diduga akan semakin efektif menciptakan ‘habitus pembelajaran’ di dunia pendidikan, khususnya di UKSW.

[1] Richard Paul & Linda Elder, 2006, The International Critical Thinking, Reading and Writing Test: How to Access Close Reading and Substantive Writing (second edition), Foundation for Critical Thinking